Jurnal Indonesia — MEDAN – Fenomena matahari yang tampak berwarna merah pekat sempat menghebohkan warga Kota Medan. Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I memberikan penjelasan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena optik atmosfer yang tidak perlu dikhawatirkan.
Menurut keterangan BMKG yang dikutip dari akun Instagram resminya, Selasa (8/9/2026), warna kemerahan pada matahari disebabkan oleh keberadaan partikel di atmosfer. Partikel-partikel ini, seperti aerosol, debu, atau asap, memiliki pengaruh terhadap bagaimana cahaya matahari merambat.
BMKG menjelaskan bahwa partikel-partikel tersebut cenderung menghamburkan cahaya berwarna biru secara lebih dominan. Akibatnya, cahaya yang berhasil menembus atmosfer dan sampai ke mata pengamat didominasi oleh warna merah atau jingga. Fenomena ini akan semakin terlihat jelas ketika posisi matahari berada di ketinggian rendah, seperti pada pagi atau sore hari.
Diduga, fenomena matahari merah yang terjadi di Medan saat itu berkaitan dengan adanya aerosol di atmosfer. Berdasarkan pantauan kondisi atmosfer, terpantau adanya kabut asap atau haze di Kota Medan dan wilayah sekitarnya pada sore hingga malam hari.
Oleh karena itu, BMKG menegaskan bahwa matahari tampak merah bukan karena perubahan warna pada matahari itu sendiri. Melainkan, cahaya matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan oleh kondisi atmosfer sebelum mencapai mata pengamat.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.