Jurnal Indonesia — JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham, yaitu UNTR, PTBA, dan JARR, untuk perdagangan pada Jumat, 11 September 2026. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis teknikal dan sentimen pasar terkini.
Untuk saham UNTR, BRI Danareksa Sekuritas melihat harga sahamnya melanjutkan tren bullish setelah berhasil menembus level 3.020. Target resistance terdekat diproyeksikan berada di rentang 3.182 hingga 3.240. Level support terdekat tercatat di 3.020, dengan support lanjutan di 2.750. Indikator MACD yang masih bullish dengan nilai 174 mengindikasikan momentum kenaikan yang kuat.
Dalam konteks yang lebih luas, PT Astra International Tbk (ASII) telah menyiapkan total capital expenditure (capex) dan investasi senilai Rp 36 triliun untuk tahun 2026. Sebagian besar dari dana tersebut dialokasikan untuk PT United Tractors Tbk (UNTR).
Selanjutnya, saham PTBA juga menunjukkan tren bullish yang berlanjut setelah menembus level 3.020. Target resistance berikutnya diperkirakan berada di area 3.182-3.240. Level support terdekat adalah 3.020, sementara rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di 2.623 berfungsi sebagai support dinamis.
Kondisi pasar batu bara turut menopang prospek PTBA. Harga batu bara tercatat naik menjadi US$ 145 per ton, level tertinggi dalam 12 minggu terakhir. Kenaikan ini didukung oleh permintaan energi global yang kuat dan risiko pasokan. Konflik di Timur Tengah yang memperketat pasokan LNG juga memberikan dorongan tambahan pada prospek batu bara, meskipun transisi energi di Tiongkok terus berlanjut.
Untuk saham JARR, harga melanjutkan penguatan setelah berhasil menembus resistance berbasis rata-rata (RBS) di level 3.500. Momentum bullish yang ada berpeluang menguji area 3.830-4.040. Support terdekat berada di 3.500, dengan MA20 di 2.965 sebagai support dinamis.
Dalam perkembangan terkait JARR, Direktur JARR, Temmy Iskandar, tercatat melakukan pembelian sebanyak 11.000 lembar saham JARR pada harga Rp 3.310 per saham pada 28 Agustus 2026.
Prediksi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,33% ke level 6.589,34 pada penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan utama berasal dari sentimen global, terutama memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mendorong harga minyak mendekati US$ 100 per barel. Hal ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang bagi kebijakan pelonggaran moneter.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, dengan yield 10 tahun mencapai sekitar 4,84%, juga memberikan tekanan pada aset berisiko dan pasar berkembang (emerging market) seperti Indonesia.
Secara domestik, penjualan ritel (retail sales) pada Juli tercatat tumbuh 1,1% secara tahunan (YoY) setelah mengalami kontraksi selama tiga bulan sebelumnya, menunjukkan adanya perbaikan konsumsi. Namun, sentimen global dinilai masih lebih dominan dalam menekan pergerakan IHSG saat ini.
Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG diprediksi masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah di tengah risiko eskalasi konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak. BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya menyatakan, “Secara teknikal, selama belum reclaim 6.600, IHSG berisiko turun ke 6.475–6.375, dengan 6.600–6.700 sebagai resistance.”
Katalis utama yang perlu dicermati adalah data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Agustus yang akan dirilis pada 11 September. Data CPI yang melebihi konsensus (headline 3,4%; core 2,4% YoY) berisiko memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish dari Federal Reserve. Sebaliknya, CPI yang lebih rendah dapat membuka peluang technical rebound.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks-indeks di bursa Wall Street ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average melemah 0,6% ke level 52.064,1. S&P 500 turun 0,58% ke 7.591,7, sementara Nasdaq Composite melemah 0,65% menjadi 26.081,7.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.