— JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan mendalam dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkait aksi korporasi perusahaan dalam mengakuisisi Loyal Metals Ltd (LM), sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di Australia. BUMI sendiri merupakan emiten yang berada di bawah naungan Grup Bakrie dan Salim.

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian BEI adalah mengenai nilai transaksi akuisisi tersebut. Direktur Bumi Resources, RA Sri Dharmayanti, mengungkapkan bahwa nilai transaksi akuisisi LM mencapai AUD 79.069.731,75. Jika dikonversikan ke dalam Rupiah, angka ini setara dengan Rp 1.004.742.244.136,50, menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per 1 September 2026 di mana 1 AUD dihargai Rp 12.707,04.

“Nilai transaksi tersebut ditentukan berdasarkan hasil uji tuntas (due diligence) hukum, keuangan, perpajakan, dan teknis yang telah dilaksanakan oleh penasihat independen perseroan, serta negosiasi yang dilakukan antara perseroan dan LM,” ujar Sri dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (11/9/2026).

Terkait sumber pendanaan, Sri merinci bahwa sebagian besar dana, yaitu sebesar USD 54.000.000 atau setara Rp 958.284.000.000 (mengacu pada kurs tengah BI tanggal 1 September 2026 sebesar Rp 17.746 per USD), berasal dari fasilitas pinjaman yang diberikan oleh Glencore Australia Holdings Pty Limited. Pinjaman ini didasarkan pada facility agreement tertanggal 24 Agustus 2026. Sisa dana sebesar Rp 46.458.244.136,50 dipenuhi dari kas internal perseroan.

BEI juga menanyakan alasan di balik akuisisi LM oleh BUMI, mengingat perusahaan ini sebelumnya juga telah mengakuisisi perusahaan Australia lainnya seperti Wolfram Limited pada Oktober 2025 dan Jubilee Metals secara bertahap pada tahun 2025-2026, yang pendanaannya bersumber dari obligasi PUB I perseroan.

Sri menjelaskan bahwa akuisisi LM didasarkan pada keekonomian proyek. Penilaian internal BUMI terhadap LM, yang didukung oleh hasil uji tuntas, menunjukkan adanya Nilai Sekarang Bersih (NPV) yang positif dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) yang melampaui ambang minimum investasi perseroan. Selain itu, akuisisi ini juga mempertimbangkan sinergi geografis dan operasional.

Aset LM, Wolfram Limited, dan Jubilee Metals berada di wilayah Queensland, Australia. Hal ini memungkinkan BUMI untuk merencanakan sinergi dalam berbagai aspek operasional, termasuk infrastruktur pengolahan, tenaga kerja teknis, kontraktor pertambangan, jalur logistik, serta kesamaan dalam struktur perizinan dan pemenuhan kewajiban lingkungan dalam satu yurisdiksi.

Lebih lanjut, Sri menekankan bahwa akuisisi LM sejalan dengan strategi perseroan untuk mencapai target bauran EBITDA dari kegiatan usaha non batu bara termal di atas 50% pada tahun 2031.

Sri juga memaparkan struktur kepemilikan LM. Perusahaan ini merupakan induk yang membawahi empat anak usaha pemegang konsesi pertambangan. Highway Copper Gold Pty Ltd (HCG), yang dimiliki 100% oleh LM, saat ini telah memegang Izin Operasi Produksi dan memiliki data geologi memadai untuk memulai tahap operasi produksi. Sementara itu, Trieste Lithium Ltd dan HWY4 Lithium Ltd, yang masing-masing juga dimiliki 100% oleh LM, masih dalam tahap eksplorasi.

Anak usaha lainnya, American Consolidated Lithium, dimiliki 49% oleh LM dan juga masih dalam tahap eksplorasi. Sri menambahkan bahwa proyek-proyek ini belum dapat memberikan kontribusi pendapatan langsung kepada perseroan karena masih memerlukan pengembangan infrastruktur lebih lanjut.

“Untuk Highway Reward Copper-Gold Mine, kontribusi pendapatan ditargetkan pada tahun ke-2 sejak dilakukannya akuisisi. Untuk aset lithium, target waktu kontribusi pendapatan akan dapat ditentukan setelah kegiatan eksplorasi dan evaluasi selesai dilakukan,” jelas Sri.

Mengenai kerugian yang dibukukan oleh LM, Sri menegaskan bahwa hal tersebut terjadi karena perusahaan belum berproduksi secara komersial. Penilaian BUMI terhadap LM lebih difokuskan pada nilai kandungan mineral yang berpotensi menghasilkan arus kas di masa depan.

Terkait dengan Wolfram dan Jubilee, Sri menyebutkan bahwa Wolfram Limited telah mulai berkontribusi terhadap pendapatan perseroan sejak produksi pertamanya pada Mei 2026. Sementara itu, Jubilee Metals Limited saat ini tengah dalam tahap konstruksi pabrik Carbon-in-Leach (CIL). Kegiatan penambangan pada dasarnya telah siap untuk dimulai dan diperkirakan akan beroperasi setelah pabrik CIL selesai dibangun.