— CareCam, perusahaan teknologi asal Singapura, mengembangkan aplikasi medis bernama 3DGait yang dirancang untuk membantu pemantauan pemulihan pasien pascaoperasi tulang belakang. Produk ini sudah mulai diuji coba di fasilitas kesehatan ternama di negaranya dan menjadi target ekspansi ke beberapa negara, termasuk Indonesia.

Aplikasi 3DGait memungkinkan pasien berjalan di depan kamera iPad Pro untuk melakukan analisis gaya berjalan tiga dimensi tanpa harus ke laboratorium khusus atau mengenakan sensor pada tubuh. Hasil analisis disiapkan sebagai laporan yang bisa ditinjau dokter saat konsultasi.

Uji Coba dan Rencana Ekspansi

Sejak Mei 2026, 3DGait sedang diuji coba di Changi General Hospital dengan durasi uji coba 18 bulan. Menurut Dr. Raman Pahwa, CTO CareCam, perusahaan ini juga sudah memulai uji coba di Amerika Serikat dan menandatangani nota kesepahaman di Jepang.

“Kami sudah mulai uji coba di Amerika Serikat. Kami sudah menandatangani MoU di Jepang, dan kami mengincar Thailand dan Indonesia sebagai langkah selanjutnya di wilayah Asia Pasifik,”

Cara Kerja dan Keunggulan Teknis

3DGait memanfaatkan kamera iPad Pro dan teknologi AI untuk merekam dan menganalisis parameter gerakan seperti panjang langkah, irama langkah, dan waktu berdiri. Proses perekaman hanya membutuhkan beberapa menit sehingga dokter dapat melakukan evaluasi cepat sebelum operasi maupun saat tindak lanjut rawat jalan.

CareCam memilih iPad Pro sebagai perangkat utama karena layar besar, prosesor seri M, dan keberadaan sensor LiDAR yang membantu menangkap gerakan pasien dalam tiga dimensi. Selain itu, aplikasi 3DGait juga dapat dijalankan pada iPhone Pro, yang menurut Pahwa menawarkan performa lebih cepat pada beberapa kondisi karena optimasi chipset A-series.

Keamanan Data

Soal keamanan data pasien, CareCam memproses data di perangkat sebelum mengirimkan laporan ke backend yang dapat terintegrasi dengan sistem rekam medis elektronik rumah sakit.

“Alasan kenapa kami mengandalkan iPad Pro atau ekosistem Apple adalah keamanan siber. Karena kami ingin data pasien tetap terenkripsi di transit, jadi ketika kami memproses data di perangkat, kami mengirimkan laporan ke backend kami, yang terintegrasi dengan sistem EHR, EMR, atau Apex yang digunakan di rumah sakit. Ini membangun kepercayaan dengan dokter serta pasien,”