Jurnal Indonesia — PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) memperkirakan perekonomian Indonesia akan tetap menunjukkan pertumbuhan yang tangguh di kisaran 5,2% pada tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada stabilitas makroekonomi, konsistensi investasi, dan penguatan pasar valuta asing (valas), di tengah ancaman kenaikan harga energi serta perlambatan ekonomi global.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik global telah memicu kenaikan harga energi yang berdampak pada tekanan inflasi dan pengetatan kondisi keuangan di berbagai negara. Pertumbuhan ekonomi global diprediksi melambat dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026, sebelum diperkirakan membaik pada 2027.
Meskipun demikian, Irman optimistis bahwa fondasi domestik Indonesia masih cukup solid untuk menahan ketidakpastian tersebut. “Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Irman dalam keterangannya pada Rabu (9/9/2026).
Pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional meliputi arus Penanaman Modal Asing (FDI) yang terus melaju positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, hingga pembangunan pusat data (data center). Sektor-sektor ini didukung oleh belanja pemerintah serta aktivitas konsumsi domestik yang tetap bergairah.
Mengacu data Bank Indonesia (BI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sempat berada di level 123 pada April 2026, turun menjadi 120,9 pada Mei, 117,8 pada Juni, dan 116,8 pada Juli 2026. Keyakinan konsumen mulai menunjukkan pemulihan pada Agustus 2026, yang dilaporkan berada di posisi 118,5 meskipun masih berada di bawah level April.
Kendati demikian, Indonesia tetap harus mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar akibat tingginya nilai impor energi dan melemahnya permintaan dari negara mitra dagang. Di saat yang sama, volatilitas pasar keuangan global dan pergeseran arah kebijakan moneter negara maju berisiko memicu gejolak arus modal serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Menanggapi potensi risiko tersebut, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat instrumen kebijakan untuk memperdalam pasar valuta asing domestik agar lebih likuid dan tahan banting.
Sementara itu, Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, menyampaikan bahwa BI telah mengimplementasikan sejumlah skema strategis. Strategi tersebut meliputi pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT), penyempurnaan aturan valas, hingga penerapan Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).
Langkah VASTRA dihadirkan untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai (hedging) Rupiah di pasar domestik, meningkatkan likuiditas, memperkuat transparansi, dan menopang stabilitas kurs dalam jangka panjang.
“Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global,” kata Yansen.
Secara keseluruhan, sinergi antara stabilitas makroekonomi, derasnya arus investasi strategis, dan kebijakan pendalaman pasar keuangan menjadi tumpuan utama Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.