— Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, berhasil memberdayakan narapidana melalui produksi kapal dengan merek dagang ‘Sukaboat’. Inisiatif ini tidak hanya memberikan keterampilan baru bagi para napi, tetapi juga telah menembus pasar dengan penjualan lebih dari 25 unit berbagai jenis kapal.

Wawan (26), seorang narapidana kasus narkoba, mengungkapkan kebanggaannya bisa membuat kapal. “Banyak sekali pelajaran yang saya dapat di sini (bengkel Sukaboat), pastinya bangga sudah bisa bikin kapal. Saya belajar teori-teori soal kapal, jadi makin bertambah wawasan. Saya sudah mengejarkan 5 kapal (tipe) SB6,” katanya kepada detikcom.

Program pemberdayaan ini sejalan dengan salah satu dari 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto tahun 2026, yang menekankan pengembangan produk karya napi dan gerakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di lingkungan lapas.

Emirsyah Satar, napi kasus korupsi yang turut mengembangkan Sukaboat, menceritakan kolaborasi dengan Honda pada pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Kemayoran. “Februari kita kolaborasi dengan Honda untuk ikut pameran IIMS 2026 di Kemayoran. Mereka mendukung menyiapkan boothnya di pameran dan sebagainya. Akhirnya kita ikut pameran, booth yang lainnya (pamer) motor, kami pamerkan kapal karya warga binaan,” ujarnya.

Pengembangan Sukaboat atau Suka Kapal ini diawasi oleh Emir, yang memiliki latar belakang ekonom dan pernah memimpin Garuda Indonesia, bersama sejumlah napi lain yang ahli di bidang transportasi, perkapalan, dan desain. Untuk aspek teknis, lapas bekerja sama dengan vendor fiberglass untuk melatih para napi.

Emir menjelaskan bahwa material yang digunakan beragam, meliputi fiberglass, aluminium, kayu, dan HDPE. Namun, pelatihan produksi saat ini masih difokuskan pada kapal berbahan fiberglass.

Jenis Kapal yang Dikembangkan Sukaboat

1. Dinghy 4 Meter

Salah satu produk awal Sukaboat adalah kapal berukuran 4 meter atau dinghy. Pada tahun 2024, sebanyak 20 unit dinghy diproduksi melalui program CSR PLN, dan enam unit lainnya untuk pesanan individu. Sekitar 15 napi terlibat aktif setiap hari di hanggar Sukaboat.

2. Duchy Boat 8 Meter

Setelah keberhasilan dinghy boat, lahir pula duchy boat yang awalnya dirancang sebagai kapal untuk akses telekomunikasi di wilayah kepulauan. Kapal berukuran 8 meter ini telah dibeli oleh pihak swasta sebanyak dua unit. Proyek ini akan dikembangkan kembali pada tahun 2026 dengan nama Duchy Reborn, dengan fokus pada modernisasi, penggunaan mesin konvensional, dan pembaruan desain untuk fungsi ‘kapal internet’ di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

3. Kapal Nelayan SBF-10

Sukaboat juga merambah segmen kapal nelayan dengan tipe SBF-10. Kapal ini merupakan upaya modernisasi kapal nelayan tradisional, dengan tetap mempertahankan karakter aslinya sambil memperbarui aspek teknis seperti material, bentuk lambung, mesin, dan propeller. Tujuannya adalah membuat kapal lebih ringan, tahan lama, mudah dirawat, lebih cepat, dan efisien bahan bakar.

4. Speedboat 6 Meter SB-6

Produk SB-6 masuk dalam kategori speedboat personal, dirancang sebagai alternatif jetski dengan kapasitas lima orang. Kapal ini bersifat multifungsi dan dapat dikembangkan menjadi kapal wisata, patroli, pancing, diving, hingga SAR. Produk ini sudah memiliki pembeli.

5. Speedboat 8 Meter SB-8

SB-8 adalah speedboat sepanjang sekitar 8 meter yang memerlukan tingkat keterampilan teknis lebih kompleks dalam pembuatannya. Ukurannya yang besar memungkinkan penggunaan kabin tertutup, sehingga menambah materi pembelajaran bagi napi dalam hal pemasangan kaca, interior, kelistrikan, hingga sistem kemudi.

6. Speedboat 10 Meter SB-10

Rancangan terbaru Sukaboat adalah SB-10, dengan panjang 10 meter, yang ditargetkan mampu mencapai kecepatan hingga 50 knot. Kapal ini dirancang untuk menunjang kegiatan patroli, pengamanan, dan tanggap darurat. Rencana penggunaan material seperti kevlar dan aramid pada SB-10 bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap proyektil.