Jurnal Indonesia — JAKARTA – Pendiri dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, diundang sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia dalam forum Advanced Air Mobility di Hong Kong. Ia membawa visi ambisius untuk mengembangkan hingga 200 unit eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) dan memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pertumbuhan industri penerbangan baru di Asia.
Denon menekankan bahwa persaingan di kawasan Asia Tenggara dalam industri Advanced Air Mobility tidak hanya ditentukan oleh negara yang pertama kali mengadopsi teknologi. Kunci utama persaingan berikutnya adalah kemampuan mengoperasikan teknologi tersebut dalam skala besar dan membangun ekosistem yang mendukungnya.
“Asia Tenggara tidak hanya membutuhkan teknologi eVTOL. Kawasan ini membutuhkan operator, infrastruktur, dan lingkungan regulasi yang mampu membuat teknologi tersebut bekerja dalam skala komersial,” ujar Denon dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (10/9/2026).
Menurut Denon, Indonesia memiliki karakteristik geografis yang sangat relevan untuk perkembangan industri ini. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan konektivitas antar kota, bandara, pusat ekonomi, kawasan industri, dan wilayah lain dengan akses transportasi terbatas menjadi celah besar bagi mobilitas udara.
Namun, Denon mengingatkan bahwa karakter geografis saja tidak cukup. Negara harus memiliki operator yang mampu menerjemahkan teknologi global menjadi operasional nyata. Oleh karena itu, roadmap Whitesky tidak hanya berfokus pada pengadaan pesawat.
Pengembangan armada diarahkan agar berjalan selaras dengan kesiapan operasional, pembangunan vertiport, pemeliharaan, pengisian daya, aspek keselamatan, pelatihan, serta keterlibatan dengan regulator. Whitesky juga aktif membangun hubungan dengan berbagai pemain teknologi internasional.
“Ambisi kami bukan sekadar membawa eVTOL ke Indonesia. Ini adalah untuk menjadikan Indonesia relevan dalam ekosistem penerbangan masa depan di Asia-Pasifik,” kata Denon.
Kehadiran Denon sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia di Hong Kong menjadi momentum penting untuk membawa perspektif tersebut ke forum regional. Whitesky ingin menunjukkan bahwa Indonesia dapat berkontribusi lebih dari sekadar potensi pembelian pesawat.
Indonesia berpotensi menjadi tempat pengujian teknologi dalam lingkungan operasional yang nyata, pengembangan menjadi layanan komersial, dan perluasan skala regional. Roadmap 200 eVTOL menjadi salah satu instrumen strategis untuk mewujudkan skala tersebut.
Jika implementasi berjalan sesuai rencana, Whitesky berpotensi memperkuat posisinya dari sekadar operator nasional menjadi salah satu pemain Advanced Air Mobility yang diperhitungkan di Asia Tenggara.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.