Jurnal Indonesia — Indeks-indeks saham Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average menjadi yang paling tertekan setelah harga minyak mentah terus naik dan memicu kekhawatiran inflasi menjelang rilis data penting Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Dow Jones Industrial Average anjlok 628,18 poin (1,18%) menjadi 52.786,07. Penurunan tersebut menjadi yang kedua secara beruntun setelah pada perdagangan Jumat (4/9/2026), Dow Jones juga melemah 272 poin. Tekanan juga terjadi pada indeks saham utama lainnya. S&P 500 turun 0,58% menjadi 7.673,52, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,32% ke level 26.421,41. Keduanya juga mencatat penurunan dalam dua sesi perdagangan berturut-turut.
Perdagangan Wall Street baru kembali berlangsung pada Selasa setelah pasar saham AS tutup pada Senin (7/9/2026) untuk memperingati Hari Buruh. Pelemahan Wall Street terjadi ketika harga minyak mentah melanjutkan penguatan. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan untuk hari keenam berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak kenaikan selama tujuh hari pada Maret lalu.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS dan Iran terlibat dalam aksi saling serang pada akhir pekan. Harga minyak Brent ditutup naik hampir 1% menjadi US$ 97,92 per barel. Setelah perdagangan berakhir, harga Brent bahkan sempat menembus US$ 99 per barel.
Lonjakan harga energi membuat perhatian pelaku pasar semakin tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut dinilai penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter menjelang pertemuan The Fed pada pekan depan. Data producer price index (PPI) dan consumer price index (CPI) AS untuk Agustus masing-masing akan dirilis pada Kamis (10/9/2026) dan Jumat (11/9/2026).
Pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah pertemuan 15-16 September mencapai 59%, berdasarkan CME FedWatch Tool. “Jika data CPI menunjukkan kejutan kenaikan, akan sangat sulit bagi mereka untuk tidak menaikkan suku bunga. Itulah yang menjadi fokus investor saat ini,” kata Chief Market Strategist Nationwide Mark Hackett.
Di tengah tekanan pasar secara keseluruhan, saham-saham semikonduktor justru menjadi salah satu penopang Wall Street. VanEck Semiconductor ETF (SMH) menguat 1,2%. Saham Intel melonjak 9,1%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) naik 5,9%. Saham Broadcom juga menguat 3%.
Kenaikan harga energi turut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun pada pekan lalu telah mencapai level tertinggi sejak November 2023. Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.
Pelaku pasar juga menghadapi meningkatnya kembali ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada. Kanada mulai memberlakukan tarif balasan terhadap sekitar US$ 20 miliar barang AS pada Selasa. Presiden AS Donald Trump pada Senin juga mengatakan produsen pesawat Kanada Bombardier tidak dapat menjual produknya di AS kecuali Kanada mulai memproduksi produknya di AS.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.