Jurnal Indonesia — Analis di bank investasi ternama asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, memprediksi harga emas masih berpotensi mencetak rekor harga tertinggi baru dalam jangka menengah. Pandangan ini disampaikan oleh Kepala Global Perdagangan Logam di Goldman Sachs, Anthony Kim.
“Menurut pandangan kami, ini bukanlah akhir dari pasar bullish (harga emas). Ini hanyalah jeda yang berkepanjangan,” ujar Anthony Kim, dikutip dari Kitco News, Rabu (9/9/2026). Ia menambahkan, “Pada akhirnya tren bullish akan berlanjut dan harga emas akan kembali mencetak rekor tertinggi di masa mendatang.”
Kim menyoroti dua faktor utama yang menyebabkan jeda kenaikan harga emas selama lebih dari tujuh bulan. Pertama adalah pencalonan dan pengesahan Ketua The Fed yang baru. Pasar saat ini sedang berusaha memahami bagaimana respons dan arah kebijakan ketua baru tersebut, terutama dalam konteks pemerintahan Donald Trump dan pandangannya terhadap kebijakan The Fed.
Faktor lainnya adalah konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah serta dampaknya terhadap akumulasi cadangan emas global akibat gangguan di pasar energi. “Banyak dari cadangan tersebut, yang secara historis sebagian dananya dialirkan kembali ke pasar emas, telah terganggu. Kami melihat adanya pengurangan besar-besaran dalam posisi investasi di berbagai lini bisnis kami,” jelasnya.
Meskipun demikian, Anthony Kim mencatat bahwa satu arus dana ke emas yang tetap bertahan adalah akumulasi oleh bank sentral. Berdasarkan estimasi terkini Goldman Sachs Research, pembelian emas oleh lembaga negara meningkat menjadi 100 ton per bulan pada Juni 2026, berdasarkan data yang disesuaikan secara musiman untuk periode tiga bulan. Angka ini menandai kenaikan dari 66 ton pada bulan sebelumnya, dengan bank sentral China tercatat sebagai pembeli terbesar yang terkonfirmasi pada bulan Juni 2026.
Tantangan yang Masih Membayangi Harga Emas
Anthony Kim juga membahas peran biaya peluang (opportunity cost) di pasar emas saat ini. Ia menganalisis apakah imbal hasil (yield) yang tinggi akan terus membatasi potensi kenaikan harga logam mulia tersebut. “Nilai mata uang fiat telah melemah dibandingkan emas; tren ini sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir,” katanya.
Kim berpendapat jika keberlanjutan fiskal menjadi faktor pendorong utama bagi keputusan alokasi dana ke emas, maka pola korelasi yang ada mungkin akan sedikit berubah. Keberlanjutan fiskal menjadi kekhawatiran tidak hanya di negara-negara Barat, tetapi juga di Jepang. Dengan demikian, kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang akibat kekhawatiran terhadap situasi fiskal justru bisa mendorong pengalokasian dana ke emas.
Ia akan sangat mencermati data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat bulan Agustus, yang akan menjadi tolok ukur inflasi penting terakhir sebelum keputusan suku bunga The Fed pada bulan September 2026. “Menurut saya, tantangannya saat ini adalah situasi pasca-pertemuan Jackson Hole; kita perlu menunggu rilis data dan tentu saja melihat langkah apa yang akan diambil The Fed,” ujarnya.
Mengenai tingkat harga yang dianggap menarik, Anthony Kim menyebut harga di kisaran US$ 4.000 merupakan batas bawah yang cukup kuat. “Kami melihat adanya pembelian oleh pihak negara (sovereign buying) serta dukungan dari investor institusional pada tingkat harga tersebut,” pungkasnya.
Goldman Sachs: Harga Emas Punya Peluang Tembus US$ 4.900
Lebih lanjut, para analis di Goldman Sachs memperkirakan hambatan terkait kebijakan The Fed akan semakin mereda. Para ekonom mereka memprediksi tren inflasi yang lebih rendah akan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil tahun ini.
Mereka menyoroti sejumlah faktor jangka menengah yang dapat mendorong harga emas melampaui perkiraan mereka untuk tahun 2026 sebesar US$ 4.900. “Porsi emas dalam portofolio swasta masih rendah, dan perkembangan geopolitik terkini, termasuk situasi di Iran dan ketegangan yang lebih luas dapat mempercepat diversifikasi investasi emas dari bank sentral ke investor swasta, termasuk dengan memengaruhi persepsi mengenai keberlanjutan fiskal negara-negara Barat,” ungkap para analis tersebut.
Goldman Sachs Research memproyeksikan bank sentral akan membeli rata-rata 50 ton emas per bulan pada 2026, meningkat dari rata-rata 17 ton per bulan pada tahun-tahun sebelum 2022.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.