— Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Koperasi (DWP Kemenkop) Sita Ferry Juliantono menyatakan dukungannya terhadap penguatan sinergi berbagai pihak, khususnya dalam upaya meningkatkan potensi industri kulit Garut menjadi produk yang memiliki daya saing tinggi melalui pembentukan kelembagaan koperasi.

Sita Ferry menyebutkan bahwa Garut memiliki sejarah panjang dan potensi besar dalam pengembangan industri kulit. Hal ini tercermin dari banyaknya pelaku usaha yang terlibat, kemampuan menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan rantai usaha mulai dari penyamakan, produksi, hingga pemasaran.

Pernyataan tersebut disampaikan Sita Ferry saat memberikan sambutan dalam kegiatan Leather Up: Accelerate, Create and Connect with Cooperatives yang diselenggarakan di Garut, Jawa Barat. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua DWP Kementerian Koperasi Wati Zabadi, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop Destry Anna Sari, Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina, dan Inisiator Piazza Firenze sekaligus Desainer Poppy Dharsono.

Sita Ferry menekankan bahwa masyarakat Garut telah mengembangkan keterampilan pengolahan kulit secara turun-temurun melalui sentra kulit yang tumbuh secara sukarela. Hasilnya adalah berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari jaket, tas, sepatu, hingga beragam produk fashion kulit lainnya.

Namun, Sita Ferry mengingatkan bahwa persaingan di industri ini semakin ketat. Keunggulan kini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga inovasi, standar pasar, serta kemampuan menjangkau konsumen yang lebih luas. “Di sinilah peran strategis koperasi menjadi sangat penting. Koperasi dinilai memiliki kemampuan menyatukan potensi individu menjadi kekuatan kolektif,” ujarnya.

Melalui koperasi, para pelaku usaha diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, membangun akses pasar, serta meningkatkan daya tawar dalam rantai nilai industri.

Kegiatan Leather Up merupakan hasil kolaborasi antara Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi dengan DWP Kemenkop. Acara ini menghadirkan narasumber berkompeten di bidang kulit, termasuk salah satu pendiri koperasi perajin kulit. Selain itu, kegiatan ini juga menyoroti pengembangan PRMC Garut sebagai tolok ukur perkembangan sektor industri kulit dan memetakan potensi komoditas kulit dalam pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Dengan semangat kolaborasi, diharapkan industri kulit Indonesia terus berkembang dan memiliki daya saing yang semakin kokoh. “Kegiatan ini juga menjadi harapan menghasilkan langkah nyata dalam membangun ekosistem industri kulit berbasis koperasi yang bermutu, dan siap bersaing hingga ke luar negeri,” ucap Sita Ferry.

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari anggota koperasi kulit, pelaku UMKM, serta perwakilan Koperasi Artisan Kulit Indonesia.

Pemilihan Garut sebagai lokasi kegiatan didasari oleh ekosistem industri kulit yang berkembang pesat di daerah tersebut, didukung oleh keberadaan koperasi dan pelaku usaha yang aktif dalam pengolahan serta produksi kulit. “Kegiatan ini bertujuan mendorong pengembangan dan daya saing industri kulit melalui peningkatan kapasitas koperasi, berbagi praktik terbaik pengelolaan dan pemasaran produk, serta memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha,” kata Destry Anna Sari.

Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, senada dengan hal tersebut, berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana peningkatan kemampuan para perajin kulit agar usaha mereka dapat naik kelas dari skala kecil menjadi lebih maju dan berdaya saing. “Pemerintah daerah pun menyambut terbuka berbagai kegiatan kolaborasi yang dapat mendukung kemajuan ekonomi masyarakat Garut,” ujarnya.

Inisiator Piazza Firenze sekaligus Desainer Poppy Dharsono menegaskan bahwa kemajuan koperasi tidak datang dengan sendirinya, melainkan dari keinginan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan saling menguatkan antaranggota. Semangat ini diharapkan dapat menular kepada seluruh pelaku usaha kulit di Garut agar terus berkembang dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Hal-hal sederhana inilah yang pada akhirnya mampu meningkatkan nilai dan penghasilan para perajin secara signifikan,” tutupnya.