— Pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 unit Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun ini dengan anggaran sekitar Rp22,5 triliun. Hingga 2029, target program ini adalah 5.000 unit. KNMP dirancang untuk memperkuat infrastruktur perikanan dan memperbaiki rantai pasok hasil tangkapan nelayan melalui pembangunan infrastruktur pendinginan dan penyimpanan guna menjaga mutu, kualitas, serta nilai jual ikan.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi perikanan nasional pada 2025 mencapai 14,6 juta ton senilai Rp443 triliun. Ekosistem pengguna cold chain memiliki economic footprint hingga Rp10.160 triliun atau 42,65% dari PDB nasional 2025. Namun, efisiensi biaya operasional menjadi faktor penting dalam membangun sistem rantai dingin yang efisien dan berkelanjutan.

Kelvin Lim, Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International, menekankan pentingnya menghitung efisiensi biaya operasi sejak awal dalam membangun sistem rantai dingin. Hal ini mengemuka dalam seminar yang digelar ASHRAE Indonesia Chapter bersama TITAN Containers dan PT DS Solutions International di PIK 2, Kamis (10/9/2026). Seminar ini dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai lintas sektor.

Kevin memaparkan simulasi biaya listrik untuk satu unit reefer container berkapasitas 5 kW yang beroperasi 24 jam selama 30 hari. Konsumsi listrik bulanan mencapai 3.600 kWh, dengan biaya sekitar Rp5.198.400 per bulan jika tarif listrik Rp1.444 per kWh. “Angka Rp5,2 juta itu bukan biaya sekali bayar, itu biaya yang terus berjalan setiap bulan, setiap tahun, selama unit itu beroperasi. Kalau perhitungan di depan saja sudah salah, jangan heran kalau bisnisnya sulit efisien di belakang,” ujar Kevin.

Sebagai alternatif, ia memperkenalkan ArcticStore Horizon, cold storage portabel berbasis panel surya dari TITAN Containers. Teknologi ini diklaim mampu memangkas biaya listrik hingga 55%, dengan potensi penghematan bulanan mencapai Rp2.339.280 dari baseline Rp5.198.400. “Kami tidak sedang menjual kontainer pendingin. Kami menjual efisiensi biaya operasional yang terukur, bukan janji,” kata Kevin.

ArcticStore Horizon memiliki empat keunggulan utama: portabilitas, kecepatan instalasi, skalabilitas, dan efisiensi energi. Teknologi ini dinilai cocok ditempatkan di titik krusial rantai pasok seperti pelabuhan perikanan, pusat distribusi, hingga saat puncak musim panen. “Persoalannya bukan lagi apakah kita butuh cold storage. Semua orang sudah tahu butuh. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: cold storage seperti apa yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan,” tandasnya.

Prof. Rokhmin Dahuri, Anggota DPR Komisi IV, menambahkan bahwa pemanfaatan sistem rantai dingin di Indonesia masih terbatas, kurang dari 12 persen dari total produksi perikanan nasional yang mencapai sekitar 15 juta ton per tahun. Penguatan sistem rantai dingin menjadi kebutuhan penting untuk mengurangi susut hasil perikanan, menjaga mutu produk, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat daya saing industri perikanan nasional.

Ia menilai penguatan rantai dingin perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari kapal, tempat pendaratan, penyimpanan, pengolahan, distribusi, hingga sampai ke konsumen. Rokhmin juga mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk pemanfaatan energi surya. “Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon yang harus dimanfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari,” katanya.

Pemanfaatan energi terbarukan tersebut dapat diterapkan secara bertahap pada kapal perikanan, cold storage, refrigerator, maupun cool box. Gagasan penggunaan energi surya di sektor perikanan telah diinisiasi sejak dirinya menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004. Pengembangan teknologi ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasional di sentra-sentra perikanan.

Penguatan rantai dingin juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor atau pendekatan pentaheliks yang melibatkan pemerintah, industri swasta, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan serta pelaku usaha perikanan, dan media. Pemerintah berperan menyediakan regulasi dan anggaran, industri menyediakan teknologi dan investasi, akademisi mendukung inovasi, komunitas menjadi pengguna, dan media membantu edukasi kepada masyarakat.