— Jakarta – Kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) memunculkan berbagai pandangan mengenai dampaknya bagi masa depan manusia. Elon Musk, tokoh teknologi terkemuka, belakangan ini menunjukkan pandangan yang sangat optimis terhadap potensi AI.

Musk menyatakan bahwa perubahan yang akan dibawa oleh AI akan sangat fundamental dan sulit dianalogikan dengan perubahan di masa lalu. “Masa depan akan sangat, sangat berbeda dari masa lalu dan tidak ada analogi atau metafora yang dapat menggambarkan besarnya perubahan yang akan kita alami ini,” ujarnya, seperti dikutip dari New York Post.

Triliuner yang juga memimpin SpaceX dan Tesla ini meyakini bahwa dalam beberapa tahun mendatang, AI akan melampaui kecerdasan manusia. Ia juga memperkirakan akan ada sekitar satu miliar robot humanoid yang beroperasi. Era kelimpahan yang didorong oleh AI ini, menurutnya, akan membuat konsep uang tunai menjadi tidak berarti.

“Benar-benar tidak akan ada hal yang tidak bisa dilakukan AI dengan lebih baik daripada manusia, mungkin selain menjadi manusia itu sendiri,” ungkap Musk.

Ia menambahkan, “Saya rasa AI mungkin akan melampaui total kecerdasan manusia dalam kurun waktu sekitar lima tahun. Hasil yang paling mungkin terjadi adalah era kelimpahan yang luar biasa di mana siapa pun bisa mendapatkan apa saja yang mereka bayangkan.”

Musk menyampaikan pandangan optimis ini dengan asumsi tidak terjadi bencana global. “Ini mungkin terdengar konyol, tentu saja ada hal-hal yang dapat menggagalkannya, seperti perang termonuklir global besar-besaran, tapi dengan asumsi tidak ada Perang Dunia III, saya pikir kita sedang menuju era kelimpahan yang menakjubkan. Jadi, ini adalah pesan optimisme dan antusiasme tentang masa depan,” imbuhnya.

Perusahaan Musk, Tesla, saat ini sedang mengembangkan robot pekerja bernama Optimus. Ia memprediksi dalam lima tahun ke depan, akan ada setidaknya 100 juta robot humanoid, atau bahkan bisa mencapai satu miliar, yang akan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan kasar.

Lebih lanjut, Musk memperkirakan ukuran ekonomi global akan berlipat ganda dalam lima hingga enam tahun ke depan, didorong oleh peningkatan hasil ekonomi yang sangat cepat. “Saya memprediksi ukuran ekonomi kemungkinan akan menjadi dua kali lipat dari saat ini dalam lima, mungkin enam tahun ke depan, karena kita akan mencapai periode penggandaan di mana hasil ekonomi meningkat sangat cepat,” katanya kepada Forbes.

Sebelumnya, Musk juga pernah mengemukakan pandangannya mengenai tabungan pensiun. Ia berpendapat bahwa menabung untuk masa pensiun di masa depan tidak akan lagi relevan. “Jangan khawatir tentang menyisihkan uang untuk pensiun dalam 10 atau 20 tahun ke depan, itu takkan berarti. Anda tidak perlu menabung untuk pensiun. Jika hal-hal yang kami katakan benar, menabung untuk pensiun jadi tidak relevan,” tuturnya.

Pendukung konsep AI berpendapat bahwa perkembangan ini pada akhirnya akan mengarah pada penerapan Pendapatan Dasar Universal (Universal Basic Income/UBI). UBI diharapkan dapat menopang kehidupan manusia yang mungkin tidak lagi memiliki pekerjaan, sehingga memudahkan akses terhadap tempat tinggal, layanan kesehatan, dan hiburan.

Namun, tidak semua pihak memiliki pandangan yang sama mengenai dampak positif AI. Dr. Chris Martenson, seorang peneliti energi, menyamakan perlombaan pengembangan AI dengan kisah Menara Babel, yang melambangkan keangkuhan manusia yang berujung pada malapetaka.

“Sejujurnya saya sangat percaya masalah AI ini adalah Menara Babel kita. Ini adalah alat yang membuat kita meyakinkan diri kita bahwa kita akhirnya bisa mendapat kursi agung di sebelah Tuhan, bahkan setara. Kitalah Tuhan sekarang dan tentu saja ketiadaan kerendahan hati, kebanggaan, kesombongan itu, selalu menjadi bumerang,” ujar Martenson.