Jurnal Indonesia — Harga emas dunia masih menunjukkan kecenderungan positif pada perdagangan Kamis (10/9/2026), didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Emas juga mulai memberikan sinyal teknikal yang membuka peluang penguatan lebih lanjut.
Pada saat berita ditulis, harga emas tercatat menguat 0,25% ke level US$ 4.412,82 per ons troi. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai bahwa harga emas pada time frame Daily berpeluang membentuk pola double bottom. Pola ini dapat membuka ruang bagi emas untuk bergerak menuju resistance di level US$ 4.479–4.510 per ons troi.
Menurut Geraldo, peluang penguatan masih terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support US$ 4.366–4.340 per ons troi. “Pada time frame Daily, saat ini harga berpotensi bergerak naik membentuk pola double bottom dan bergerak menuju resistance terdekat di harga US$ 4.479 – 4.510 per ons troi,” ujar Geraldo dalam analisisnya.
Geraldo menjelaskan, pola double bottom umumnya muncul setelah harga mengalami tekanan dan dapat menjadi indikasi awal pembalikan arah. Dalam kondisi saat ini, pola tersebut menunjukkan tekanan jual mulai mereda dan pembeli berpeluang kembali mengambil kendali. Oleh karena itu, area US$ 4.479–4.510 per ons troi menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika harga mampu bergerak menuju dan menembus zona tersebut, peluang penguatan berikutnya akan semakin terbuka.
Sebaliknya, lanjut Geraldo, area US$ 4.366–4.340 per ons troi menjadi support yang perlu dipertahankan. Penembusan support tersebut dapat mengurangi kekuatan skenario bullish dan membuka ruang bagi tekanan jual kembali.
Dari sisi fundamental, Geraldo menegaskan, emas masih mendapatkan dukungan dari pelemahan dolar AS. Harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.412,84 per ons troi pada Kamis pagi, sementara investor menunggu data inflasi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Dolar AS yang lebih lemah membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor pendukung bagi permintaan aset safe haven. Namun, pergerakan emas saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika dolar AS dan ekspektasi suku bunga dibandingkan faktor geopolitik.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel setelah menembus level tersebut pada perdagangan sebelumnya. Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan turut mendorong kenaikan yield obligasi global.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi AS. Producer Price Index (PPI) dijadwalkan dirilis Kamis, sedangkan Consumer Price Index (CPI) akan menyusul pada Jumat. Kedua data tersebut menjadi penting karena merupakan salah satu pertimbangan utama pasar dalam memperkirakan langkah The Fed pada pertemuan 15–16 September.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada September. Namun, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, yang dapat mendorong dolar AS dan yield obligasi lebih tinggi sehingga menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan terhadap emas dan memberikan ruang bagi logam mulia untuk melanjutkan penguatan. Dengan demikian, Geraldo melihat arah harga emas masih positif selama support 4.366–4.340 mampu dipertahankan. Jika momentum pembelian berlanjut, harga emas berpeluang menguji resistance 4.479–4.510.
“Pelaku pasar perlu mencermati respons harga di level tersebut sekaligus perkembangan PPI dan CPI AS yang berpotensi meningkatkan volatilitas emas dalam jangka pendek,” tutup Geraldo.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.