— Pergerakan harga emas pada pekan mendatang diprediksi masih berada di bawah tekanan bearish. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengamati adanya peningkatan tekanan jual yang terlihat pada grafik harian. Pola Head & Shoulder yang terbentuk menjadi sinyal penting, dengan level US$ 4.237 per ons troi disorot sebagai titik krusial.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat melemah 0,15% ke level US$ 4.310,47 per ons troi. Geraldo menjelaskan bahwa formasi Head & Shoulder pada time frame daily mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut setelah periode penguatan sebelumnya.

“Selama tekanan jual masih mendominasi, peluang harga emas untuk bergerak lebih rendah masih terbuka pada pekan depan,” ujar Geraldo dalam risetnya, Jumat (11/9/2026).

Menurut Geraldo, level US$ 4.237 per ons troi merupakan area support penting yang perlu dicermati oleh pelaku pasar. Jika tekanan bearish berlanjut, harga emas berpotensi menguji level tersebut dalam perdagangan pekan depan. Reaksi harga di sekitar level ini akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Jika support mampu menahan tekanan jual, peluang untuk rebound masih terbuka. Namun, penembusan kuat pada level tersebut berpotensi membuka ruang pelemahan harga emas lebih besar. Di sisi lain, area US$ 4.409 per ons troi ditetapkan sebagai resistance penting dalam skenario ini. Selama harga emas belum mampu ditutup di atas level tersebut, tren bearish diperkirakan masih akan mendominasi.

“Dengan demikian, pergerakan harga emas di antara support US$ 4.237 per ons troi dan resistance US$ 4.409 per ons troi akan menjadi perhatian utama pelaku pasar pada pekan depan,” jelas Geraldo.

Geopolitik Beri Sentimen Ganda

Dari sisi fundamental, Geraldo Kofit menegaskan bahwa harga emas pekan depan akan dipengaruhi oleh katalis yang bergerak berlawanan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi memberikan sokongan permintaan emas sebagai aset safe haven.

Meningkatnya ketidakpastian global secara umum mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap lebih defensif. “Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah masih dapat memberikan dukungan terhadap harga emas,” paparnya.

Namun, Geraldo juga menyoroti risiko yang muncul dari eskalasi geopolitik, terutama melalui pasar energi. Kenaikan harga minyak yang menembus US$ 100 per barel memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi global.

Peningkatan harga energi berpotensi mendongkrak biaya produksi dan transportasi, yang pada gilirannya dapat membuat inflasi bertahan tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed).

“Jika tekanan inflasi semakin kuat, peluang suku bunga The Fed bertahan tinggi dalam waktu lebih lama dapat meningkat. Ekspektasi tersebut berpotensi menopang dolar dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), sekaligus membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil,” kata Geraldo.

Selain itu, data Producer Price Index (PPI) AS yang naik 0,4% secara bulanan juga menjadi sorotan pasar. Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan pada tingkat harga produsen yang dapat menjadi pertimbangan dalam membaca arah inflasi dan kebijakan moneter ke depan.