— JAKARTA – FIFA berhasil mencatatkan rekor keuntungan finansial yang signifikan dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Keuntungan yang diraih diperkirakan mencapai 15 miliar dolar AS atau setara dengan Rp269 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebelum turnamen.

Angka ini merupakan peningkatan drastis dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana FIFA meraup keuntungan sebesar 7,5 miliar dolar AS (sekitar Rp134 triliun). Keuntungan pada edisi 2026 ini tercatat dua kali lipat lebih besar dari gelaran sebelumnya.

Peningkatan keuntungan ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Salah satunya adalah perluasan jumlah negara peserta yang bertambah menjadi 48 tim, meningkat dari 32 tim pada Piala Dunia 2022. Selain itu, kenaikan harga tiket, terutama di pasar sekunder dengan harga yang sangat tinggi, turut berkontribusi besar terhadap pendapatan FIFA. Organisasi sepak bola dunia ini mengambil keuntungan 15 persen dari pembeli dan 15 persen lagi dari penjual di pasar sekunder.

Meski asosiasi-asosiasi sepak bola kemungkinan besar akan merasakan manfaat dari peningkatan keuntungan FIFA, detail lengkap mengenai pembagiannya masih dalam tahap finalisasi. Keuntungan besar ini juga membuka peluang Amerika Serikat untuk kembali menjadi tuan rumah edisi Piala Dunia di masa depan, seperti yang diutarakan oleh Presiden Donald Trump yang berkeinginan menjadikan Negeri Paman Sam sebagai tuan rumah tunggal di masa depan.

Lebih lanjut, FIFA juga sedang mengkaji kemungkinan untuk menambah jumlah tim di Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim. Langkah ini diambil sebagai salah satu strategi untuk mendongkrak keuntungan finansial lebih jauh lagi dibandingkan dengan pencapaian saat ini.