— WASHINGTON – Generasi muda kini memandang kepemilikan rumah dengan perspektif yang berbeda. Di tengah kenaikan harga properti dan suku bunga hipotek yang tinggi, sebagian memilih untuk tetap menyewa sambil mengalokasikan dana mereka ke investasi pasar modal.

Perubahan cara pandang ini tercermin dalam survei Pew Research Center 2026. Pada tahun 2024, hanya 37% rumah tangga penyewa berusia di bawah 40 tahun yang dianggap mampu menanggung biaya bulanan kepemilikan rumah, sebuah penurunan signifikan dari 56% pada tahun 2019. Kondisi ini mendorong banyak profesional muda untuk mempertimbangkan apakah dana mereka lebih baik digunakan untuk uang muka dan cicilan rumah, atau diinvestasikan agar terus bertumbuh.

Chad Chubb, pendiri sekaligus penasihat utama WealthKeel, mengemukakan bahwa semakin banyak klien mudanya yang memprioritaskan investasi dibandingkan membeli rumah. “Harga rumah meningkat lebih cepat daripada upah di sebagian besar wilayah metropolitan, sehingga perhitungan uang muka dan cicilan bulanan sekarang sangat berbeda dibandingkan 10 tahun lalu,” katanya, dikutip Reuters, Jumat (11/09/2026).

Chubb menambahkan bahwa suku bunga hipotek yang lebih tinggi juga berkontribusi pada peningkatan signifikan biaya kepemilikan rumah, terutama jika dibandingkan dengan periode ketika suku bunga berada di level rendah.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Lydia Paternoster, seorang perempuan berusia 25 tahun, menjadi contoh nyata perubahan strategi keuangan generasi muda. Ia memilih menginvestasikan dana yang seharusnya digunakan sebagai uang muka rumah ke pasar saham.

Paternoster, yang berprofesi sebagai kreator konten dan sebelumnya akuntan, menilai langkah ini memberinya peluang lebih besar untuk membangun aset sekaligus menjaga fleksibilitas keuangan. “Pendekatan yang saya ambil adalah bisa mendapatkan rumah impian yang lebih sesuai, ketimbang membeli rumah pertama yang sekadar terjangkau,” ujarnya.

Ia memperkirakan, jika membeli rumah yang saat ini mampu dijangkaunya di Texas, ia harus mengeluarkan ribuan dolar setiap tahun untuk cicilan hipotek dan perawatan. Menurutnya, dana tersebut masih dapat dialihkan untuk investasi. “Itu adalah tambahan uang setiap tahun yang sebenarnya bisa saya investasikan,” tambahnya.

Paternoster juga mempertimbangkan faktor likuiditas. Berbeda dengan rumah yang membutuhkan waktu untuk dijual, aset investasi dinilai lebih mudah diakses ketika dibutuhkan. Ia mulai berinvestasi sejak usia 19 tahun dan kini mengalokasikan sekitar US$2.000 dari pendapatan bulanannya yang mencapai US$8.000 untuk investasi. Portofolionya telah mencapai lebih dari US$100.000 dan tersebar pada saham AS, reksa dana indeks, serta exchange-traded fund (ETF).

Paternoster menekankan pentingnya konsistensi dalam berinvestasi. Investasi rutin, sekecil US$50 atau US$100 per bulan, tetap dapat memberikan hasil yang berarti dalam jangka panjang. Targetnya adalah memperbesar tabungan dan investasi sejak usia muda agar aset tersebut terus bertumbuh dan mencukupi kebutuhan pensiun tanpa perlu setoran besar di kemudian hari. “Bahkan jika hanya menunda memiliki rumah selama beberapa tahun, itu akan membuat perbedaan besar dalam 20, 30, atau 40 tahun,” pungkasnya.

Meskipun demikian, pilihan menyewa sambil berinvestasi tidak selalu menjadi opsi yang lebih menguntungkan bagi semua orang. Kepemilikan rumah tetap dapat menjadi sarana membangun ekuitas dalam jangka panjang. Namun, keputusan membeli rumah juga perlu memperhitungkan biaya lain seperti pajak, asuransi, perawatan, bunga hipotek, hingga biaya penjualan.

Bagi sebagian generasi muda, menyewa tidak lagi dianggap sekadar pengeluaran tanpa hasil. Strategi ini dapat menjadi pilihan finansial yang bijak apabila selisih biaya antara menyewa dan memiliki rumah benar-benar dialihkan ke investasi.

Di sisi lain, perencana keuangan tetap menekankan pentingnya menjaga fondasi keuangan terlebih dahulu. Dana darurat, tabungan pensiun, dan pembayaran utang berbunga tinggi sebaiknya tidak dikorbankan hanya demi mengejar uang muka rumah.

Perubahan tren ini menunjukkan bahwa keputusan untuk memiliki rumah semakin dipengaruhi oleh kondisi pasar, biaya pembiayaan, tujuan hidup, dan strategi investasi, bukan semata-mata anggapan bahwa membeli properti selalu menjadi pilihan finansial terbaik.