— Pukul lima pagi di Papua, anak-anak usia 12-15 tahun di Papua Football Academy (PFA) telah memulai aktivitasnya. Bangun, merapikan diri, sarapan, lalu bersiap menuju lapangan latihan. Sepak bola bukan sekadar hobi, melainkan rutinitas yang membentuk masa depan mereka sebagai calon pesepakbola profesional.

Para remaja ini berasal dari berbagai penjuru Papua, mulai dari pesisir, pegunungan, hingga perkotaan. Sebagian dari mereka meninggalkan kenyamanan keluarga dan kampung halaman demi menempuh pendidikan dan latihan sepak bola di PFA yang berlokasi di Mimika.

Di lapangan latihan PFA, nama Boaz Solossa sering disebut ketika para peserta ditanya mengenai idola mereka. Bagi mereka, Boaz bukan hanya mantan bintang tim nasional Indonesia dan Persipura Jayapura, tetapi juga simbol bahwa pemain asal Tanah Papua mampu meraih puncak karier di kancah sepak bola nasional.

“Idola saya Boaz Solossa,” ujar salah satu peserta Papua Football Academy, Hisoni Liberti Akwiland Bahabol, saat ditemui di Mimika Sports Complex, Selasa (15/9/2026). Hal senada diungkapkan Christo Ray Momot, “Pemain idola saya Boaz Solossa. Karena Boaz itu pemain Papua yang sangat berbakat dan dia itu bagus bermain di klub.”

Untuk mewujudkan cita-cita menjadi pesepakbola profesional, mereka digembleng dengan latihan intensif selama 15 hingga 20 jam per minggu. Pembinaan di PFA mencakup aspek teknis, taktis, fisik, dan mental secara holistik.

Para peserta tinggal di asrama yang berlokasi di kawasan Mimika Sports Complex seluas 5.000m2. Fasilitas yang disediakan meliputi lapangan latihan, gym, fisioterapi, serta program pendidikan formal dan perlindungan anak sesuai pedoman FIFA.

Meskipun mengidolakan Boaz Solossa, para pelatih menanamkan semangat kompetitif agar para peserta dapat melampaui prestasi idola mereka. Gelar dan pencapaian Boaz dijadikan motivasi untuk terus mengasah kemampuan hingga menjadi pemain profesional.

“Biasanya coach bertanya, ada pemain kesukaan atau pemain favorit, begitu coach bilang, kita harus menjadikan pemain itu sebagai saingan kita. Atau kita lebih baik dari pemain itu,” ungkap Pilipus Bormao Beagaimu. Yansen Terianus Awi menambahkan, “Menurut saya, motivasi yang coach berikan mungkin jangan mau kalah dari pemain yang kita idolakan. Dulu dia bermain ambil banyak gelar atau prestasi, berarti jangan mau kalah dari dia, harus lebih baik dari dia. Jadikan dia pacuan buat kita.”

Selain kemampuan teknis, attitude dan disiplin menjadi fokus utama dalam pembinaan. Para peserta diajarkan cara berkomunikasi yang baik dengan orang yang lebih tua dan didorong untuk tampil percaya diri.

Kepala Pelatih PFA, Ardiles Rumbiak, menegaskan bahwa PFA didirikan bukan hanya untuk sepak bola, tetapi untuk membina karakter melalui sepak bola. “Karena PFA ini didirikan untuk bina karakter melalui sepak bola, bukan sepak bola untuk karakter. Itu yang bedanya,” jelas Ardiles.

Para peserta tidak hanya belajar sepak bola sebagai individu, tetapi juga belajar arti penting hidup dalam sebuah tim. Kebiasaan kecil seperti disiplin, komunikasi, keberanian berbicara, dan keluar dari zona nyaman terus dibangun.

Direktur Akademi PFA, Wolfgang Pikal, menyoroti potensi fisik anak-anak Papua yang dinilainya memiliki kualitas menonjol, terutama pada otot fast switching muscle. Dengan nutrisi, latihan, dan pemulihan yang tepat, potensi fisik mereka dapat berkembang secara optimal.

“Saya pikir yang istimewa betul dari anak Papua yang kelihatan, satu, yang mereka punya otot fast switching muscle, otot yang lebih beda. Mereka memang sudah dapat nutrisi bagus, perkembangannya fisik sangat baik,” ujar Pikal. Ia juga menilai kualitas bibit muda Papua terus meningkat, dan PFA menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan meraih mimpi menjadi pemain sepak bola profesional.

“Saya rasa ada sedikit meningkat soalnya dari PFA yang semua klub dan anak Papua tepat satu impian untuk masuk sini pasti ada motivasi atau inspirasi lebih, soalnya ada PFA sekarang di sini. Banyak anak mau masuk di sini dan memang masuk ke PFA, salah satu cara untuk bisa jadi pemain profesional dan mereka mimpi jadi pemain timnas,” pungkasnya.