— Harga batu bara global mengalami penurunan pada perdagangan Senin (7/9/2026). Kontrak September 2026 untuk batu bara Newcastle terpantau turun US$ 0,9 menjadi US$ 147,75 per ton. Kontrak Oktober 2026 juga melemah US$ 1 ke level US$ 152 per ton, sementara kontrak November 2026 anjlok US$ 1,25 menjadi US$ 152,8 per ton.

Di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak September 2026 terpangkas US$ 0,5 menjadi US$ 137,75 per ton. Kontrak Oktober 2026 jatuh US$ 1,2 menjadi US$ 138,5 per ton, dan kontrak November 2026 merosot US$ 1,1 menjadi US$ 138,25 per ton.

Di tengah penurunan harga ini, India mengambil langkah signifikan dengan mempercepat pengiriman batu bara ke sejumlah pembangkit listrik. Keputusan ini diambil setelah stok bahan bakar di puluhan pembangkit negara tersebut turun ke level kritis.

Peningkatan pengiriman dilakukan seiring bertambahnya jumlah pembangkit listrik yang memiliki persediaan batu bara kurang dari 25% dari kebutuhan. Data dari Central Electricity Authority menunjukkan bahwa per 5 September, terdapat 58 pembangkit dengan stok batu bara di bawah 25% dari kebutuhan, atau hanya cukup untuk pembangkitan kurang dari tiga hari. Angka ini meningkat dari 46 pembangkit pada akhir Agustus, dengan 53 di antaranya merupakan pembangkit berbahan bakar batu bara domestik.

Kementerian Batu Bara India menyatakan bahwa kondisi kritis di pembangkit termal terus dipantau. Berbagai langkah perbaikan pasokan telah diimplementasikan untuk mengurangi tekanan pada pembangkit.

Pengiriman Dipercepat

Upaya percepatan pengiriman dari Coal India, anak-anak usahanya, serta tambang swasta mulai menunjukkan hasil dalam memperbaiki pasokan. Pemerintah India melaporkan peningkatan aktivitas pemuatan batu bara setiap hari sejak 3 September. Pengiriman batu bara ke pembangkit listrik tercatat mencapai 444 rangkaian kereta pada 6 September, meningkat dari 370 rangkaian pada 3 September.

Namun, tantangan masih menghadang. Hujan deras di beberapa negara bagian penghasil batu bara utama seperti Odisha, Jharkhand, dan Chhattisgarh dilaporkan mengganggu kegiatan penambangan dan memperlambat proses pengangkutan batu bara menuju pembangkit listrik.

Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat batu bara menyumbang sekitar tiga perempat dari total pembangkitan listrik India. Kelancaran pasokan batu bara merupakan faktor krusial untuk menjaga keandalan jaringan listrik nasional.

Meskipun demikian, Coal India, perusahaan tambang batu bara terbesar di dunia, mengonfirmasi bahwa persediaan batu bara di lokasi tambangnya masih memadai, dengan stok sekitar 76 juta ton. Dengan menipisnya stok di pembangkit dan meningkatnya permintaan listrik India, percepatan pengiriman batu bara berpotensi menjadi faktor penting bagi pasar global. Jika pasokan domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan pembangkit, India berpeluang meningkatkan impor untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikannya.