Jurnal Indonesia — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menunjukkan pergerakan yang beragam pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Pasar mencermati potensi perlambatan laju ekspor yang dapat menekan harga, namun di sisi lain, kondisi cuaca kering yang diperkirakan berpotensi mengganggu hasil produksi menjadi faktor penopang.
Berdasarkan data dari bursa, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat mengalami penurunan 10 Ringgit Malaysia, menjadi 4.688 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 juga melemah 10 ringgit Malaysia dan ditutup pada 4.806 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 sedikit tergelincir 2 ringgit Malaysia ke posisi 4.976 ringgit Malaysia per ton.
Namun, tren pelemahan tidak terjadi pada semua kontrak. Kontrak Desember 2026 justru menunjukkan penguatan 5 ringgit Malaysia, mencapai 5.115 ringgit Malaysia per ton. Tren positif berlanjut pada kontrak Januari 2027 yang terkerek 10 ringgit Malaysia menjadi 5.224 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Februari 2027 yang menguat 7 ringgit Malaysia ke angka 5.301 ringgit Malaysia per ton.
Proprietary Trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, seperti dikutip dari Bernama, menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering yang sedang berlangsung saat ini menjadi faktor pendukung harga CPO. Ia memperkirakan cuaca tersebut berpotensi memengaruhi hasil produksi dalam jangka menengah.
“Kami melihat harga mendapat dukungan di atas 4.900 ringgit Malaysia, dengan resistance di 5.050 ringgit Malaysia,” ujar David Ng mengenai pergerakan harga CPO ke depan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.