Jurnal Indonesia — Harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh para trader, meskipun kekhawatiran terhadap dampak fenomena El Nino pada produksi masih memberikan dukungan bagi pasar.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat turun 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.669 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 juga terkoreksi 19 ringgit Malaysia menjadi 4.787 ringgit Malaysia per ton.
Lebih lanjut, kontrak November 2026 melemah 10 ringgit Malaysia menjadi 4.966 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Desember 2026 tergelincir 6 ringgit Malaysia menjadi 5.109 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 melemah 4 ringgit Malaysia menjadi 5.220 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Februari 2027 turun tipis 1 ringgit Malaysia menjadi 5.300 ringgit Malaysia per ton.
Menurut laporan Business Recorder, harga CPO Malaysia berakhir lebih rendah untuk sesi kedua berturut-turut karena aktivitas profit taking. Namun, Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, menyatakan bahwa tren pasar CPO secara luas masih cenderung bullish. Hal ini didorong oleh faktor El Nino yang diperkirakan mengurangi curah hujan dan berdampak pada produksi.
“Pasar masih rentan terhadap aksi ambil untung secara berkala, tetapi tren yang lebih luas tetap bullish, didorong faktor El Nino dan perkiraan kurangnya curah hujan,” kata Paramalingam.
Para pelaku pasar kini menantikan data pasokan dan permintaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan rilis pada Kamis (10/9/2026) untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar CPO.
Minyak Brent Memberikan Sentimen Positif
Di tengah tekanan dari aksi profit taking, kenaikan harga minyak dunia memberikan sentimen positif bagi pasar CPO. Harga minyak Brent dilaporkan menembus US$101 per barel pada perdagangan Rabu, mencapai level tertinggi dalam lebih dari enam pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan aliran minyak dari kawasan tersebut.
Harga minyak mentah yang lebih tinggi membuat CPO menjadi relatif lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan minyak sawit untuk kebutuhan energi.
Sementara itu, pergerakan harga minyak nabati lainnya juga turut menjadi perhatian. Kontrak soyoil paling aktif di Dalian turun 0,73%, sedangkan kontrak palm oil melemah 1,09%. Di sisi lain, harga soyoil di Chicago Board of Trade naik 0,35%.
CPO bersaing dengan minyak nabati lainnya untuk mendapatkan pangsa pasar global, sehingga pergerakan harga komoditas pesaing cenderung memengaruhi harga minyak sawit.
Program Biodiesel Indonesia Jaga Prospek Permintaan
Implementasi program biodiesel B50 di Indonesia menjadi salah satu faktor penting yang menjaga prospek permintaan CPO. Berdasarkan presentasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam rapat dengan parlemen, Indonesia telah menyerap 10,7 juta kiloliter biodiesel berbasis minyak sawit sejak Januari hingga awal September 2026.
Implementasi B50 secara nasional menjadikan kebutuhan CPO untuk sektor biodiesel sebagai salah satu faktor krusial yang diperhatikan pelaku pasar.
Di pasar mata uang, Ringgit Malaysia terpantau melemah 0,27% terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang Malaysia ini membuat komoditas yang diperdagangkan dalam Ringgit Malaysia menjadi sedikit lebih murah bagi pembeli internasional, yang secara teori dapat mendorong permintaan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.