— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada sesi pertama perdagangan Jumat (11/9/2026). Indeks ditutup merosot 98,43 poin atau 1,49% ke level 6.490, tertekan oleh harga minyak dunia yang terus bertahan di atas US$ 100 per barel. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang turut membayangi bursa regional Asia.

Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan sentimen pasar. “Konflik yang berkepanjangan memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (11/9/2026).

Harga minyak mentah masih bertahan tinggi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak mengharapkan perang Iran berakhir sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November. Trump juga mengindikasikan harga minyak kemungkinan belum akan turun hingga periode tersebut. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus menambah beban pemerintah melalui subsidi energi.

Pilarmas menambahkan, kekhawatiran pasar semakin besar setelah pejabat tinggi AS dilaporkan memperingatkan Trump bahwa perang dapat berlangsung hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2029. Sementara itu, para pemimpin Iran disebut tetap bertekad melanjutkan perang meskipun tekanan ekonomi terus meningkat.

Selain konflik geopolitik, Pilarmas mengatakan, pasar juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data Producer Price Index (PPI) final demand secara bulanan meningkat dari 0,1% menjadi 0,4%, sedangkan secara tahunan naik dari 4,3% menjadi 4,6%. Kenaikan ini menjadi perhatian karena harga energi yang tinggi akibat perang berpotensi membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.

“Kondisi itu dapat memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” jelas Pilarmas. Ekspektasi tersebut berpotensi menekan aset berisiko, termasuk saham, karena kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS dapat membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik. “Pelaku pasar juga menantikan rangkaian data inflasi AS berikutnya untuk melihat apakah kenaikan harga energi mulai memberikan dampak yang lebih luas terhadap tekanan harga,” jelas Pilarmas.

Dari dalam negeri, Pilarmas menyebut, pasar mencermati hasil survei Bank Indonesia yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 tumbuh 1,1% secara tahunan. Angka tersebut membaik dibandingkan Juni 2026 yang mengalami kontraksi 3%. Perbaikan IPR memberikan gambaran bahwa permintaan konsumen masih terjaga.

Namun, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menjadi tantangan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena dapat meningkatkan kebutuhan subsidi energi. Di tengah IHSG yang tertekan, sejumlah saham justru bergerak positif pada sesi pertama perdagangan. Lima saham dengan kenaikan terbesar adalah SAPX, MGNA, MITI, SHID, dan PTSN. Sebaliknya, saham GSMF, MSKY, APIC, JAWA, dan ACST menjadi kelompok saham yang mengalami penurunan terbesar.

Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Saham ENRG memiliki level support di 1.435 dan resistance di 1.600.