— PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) terus berupaya mempercepat pertumbuhan pendapatan melalui berbagai strategi ekspansi jaringan rumah sakit. Selain menambah kapasitas melalui pembangunan rumah sakit baru dan akuisisi, perseroan membidik peningkatan pendapatan per pasien dengan memperkuat layanan eksekutif, Center of Excellence, serta pasar korporasi dan asuransi.

Strategi ini mulai menunjukkan hasil positif. Pada semester I-2026, pendapatan HEAL mencapai Rp 3,60 triliun, tumbuh 6,51% secara tahunan dari Rp 3,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 14,08% menjadi Rp 193,17 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya beban operasional dan penyusutan seiring ekspansi kapasitas.

Direktur Bidang Operasional dan Komersial Medikaloka Hermina, Susi Setiawati, menyatakan bahwa perseroan akan terus memperkuat layanan unggulan untuk meningkatkan kompleksitas dan nilai layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Salah satu fokus utama adalah pengembangan Center of Excellence, yang mencakup layanan jantung, onkologi, stroke, fertilitas, ortopedi, uronefrologi, hingga rehabilitasi medik dan kedokteran nuklir.

“Pertumbuhan Hermina ke depan bukan hanya dari jumlah pasien, tetapi juga bagaimana meningkatkan kualitas dan kompleksitas layanan,” ujar manajemen dalam paparan publik HEAL, Selasa (8/9/2026). HEAL juga mengarahkan strategi komersial untuk meningkatkan kontribusi pasien non-BPJS dan segmen eksekutif. Meskipun tetap melayani pasien BPJS, perseroan memperluas layanan premium melalui pengembangan fasilitas, dokter spesialis dan subspesialis, serta peningkatan pengalaman pasien.

Strategi ini tercermin dari peningkatan revenue per inpatient days. Pada semester I-2026, pendapatan rawat inap HEAL tumbuh sekitar 12% secara tahunan. Pendapatan per hari rawat inap pasien BPJS meningkat sekitar 6,5%, sementara pasien non-BPJS naik sekitar 7,1%. Pada kuartal II-2026, pendapatan per hari rawat inap pasien non-BPJS melonjak sekitar 25% secara tahunan, mengindikasikan peningkatan service intensity sebagai salah satu sumber pertumbuhan pendapatan HEAL.

Untuk memperbesar pasar tersebut, Hermina memperkuat kerja sama dengan perusahaan dan asuransi, termasuk melalui layanan medical check-up (MCU). Perseroan juga mengembangkan layanan coordination of benefit (COB) seiring implementasi kebijakan KAPJ. Di sisi kapasitas, HEAL tetap agresif melakukan ekspansi. Perseroan memiliki 53 rumah sakit per Juni 2026 dan membuka Hermina Badung di Bali pada April 2026, yang merupakan bagian dari ekspansi untuk memperluas akses layanan kesehatan di wilayah dengan kebutuhan tinggi.

Selanjutnya, Hermina membuka rumah sakit di Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Agustus 2026, menambah jaringan rumah sakit Hermina menjadi 54 unit. Manajemen menargetkan pembangunan sedikitnya dua rumah sakit baru setiap tahun melalui kombinasi strategi greenfield (pembangunan dari awal) dan brownfield (pengembangan atau akuisisi rumah sakit yang telah beroperasi). Strategi brownfield dinilai memiliki keunggulan berupa waktu implementasi yang lebih cepat, kebutuhan investasi yang lebih efisien, serta basis pasien dan dokter yang sudah tersedia.

Selain membangun rumah sakit baru, HEAL juga melakukan pengembangan rumah sakit eksisting, termasuk di Hermina Lampung, Arcamanik, dan Bogor. Ekspansi kapasitas ini tercermin dari penambahan tempat tidur. Pada semester I-2026, HEAL menambah 732 tempat tidur dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan jumlah operational beds mencapai 9.019 unit. Tingkat bed occupancy rate (BOR) berada di sekitar 68%, sementara average length of stay sekitar tiga hari.

Dari sisi volume, pasien rawat inap tumbuh 6% secara tahunan, sedangkan hari rawat inap meningkat 8%. Pasien rawat jalan juga tumbuh 9% secara tahunan. Manajemen menilai peningkatan volume ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan pendapatan ketika tingkat utilisasi rumah sakit baru semakin meningkat. Kendati pendapatan meningkat, ekspansi agresif masih memberikan tekanan terhadap laba jangka pendek.

Pada semester I-2026, laba bersih HEAL turun 14,08% menjadi Rp 193,17 miliar. Tekanan terutama berasal dari meningkatnya beban penyusutan akibat penambahan rumah sakit, tempat tidur, dan peralatan medis. Dengan sebagian aset menggunakan metode double declining balance, beban penyusutan relatif lebih tinggi pada fase awal investasi. Sementara itu, EBITDA tercatat sekitar Rp 940 miliar dan relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga mencatat laba kotor sekitar Rp 1,24 triliun dengan margin 34,2%.

Manajemen menilai tekanan ini bersifat lebih jangka pendek karena biaya investasi akan diikuti oleh peningkatan utilisasi rumah sakit dan kapasitas layanan. “Fokus kami bukan hanya menambah kapasitas, tetapi juga meningkatkan produktivitas aset yang sudah dibangun,” jelas manajemen. Untuk menopang strategi tersebut, HEAL mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 1,3 triliun pada 2026. Dana ini digunakan untuk pembangunan rumah sakit baru, renovasi rumah sakit eksisting, serta pembelian peralatan medis.

Dengan sisa capex sekitar Rp 500 miliar, fokus hingga akhir tahun lebih banyak diarahkan pada rumah sakit yang sudah beroperasi. Perseroan akan memperkuat Center of Excellence, menambah peralatan medis, merekrut dokter spesialis dan subspesialis, serta melakukan renovasi fasilitas. Renovasi juga diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pasien non-BPJS melalui pemisahan alur pelayanan BPJS dan non-BPJS.

Selain mengandalkan jaringan rumah sakit, HEAL mulai mengembangkan sumber pendapatan dari bisnis non-hospital melalui PT Medikaloka Management (PT MLM). Entitas ini menawarkan jasa konsultasi manajemen rumah sakit, central procurement, konsultasi pembangunan dan pendirian rumah sakit, hingga operatorship. Model ini memberikan peluang bagi Hermina untuk memperoleh pendapatan dari pengelolaan rumah sakit di luar jaringan kepemilikan langsung.

Salah satu contohnya adalah kerja sama operatorship dengan RS Ubaya di Surabaya. Hermina terlibat sejak tahap pembangunan, perizinan, pengadaan sumber daya manusia hingga pengadaan obat dan manajemen operasional. Setelah lebih dari dua tahun beroperasi, rumah sakit tersebut telah mencatatkan EBITDA positif. Melalui kombinasi ekspansi rumah sakit, peningkatan layanan eksekutif, penguatan Center of Excellence, kolaborasi korporasi dan asuransi, serta pengembangan Hospital Management Service, HEAL menargetkan pertumbuhan pendapatan yang lebih berkelanjutan.

Strategi ini juga menjadi upaya perseroan untuk menggeser sumber pertumbuhan dari sekadar penambahan jumlah rumah sakit menuju peningkatan produktivitas aset dan nilai layanan per pasien.