— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis, 10 September 2026. Pada penutupan sesi Rabu (9/9/2026), IHSG tercatat melemah 8,24 poin atau 0,12% ke level 6.678. Sektor transportasi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,41%, sementara sektor kesehatan mengalami penurunan terdalam sebesar 1,33%.

Menurut analisis teknikal Pilarmas Investindo Sekuritas, IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support di 6.600 dan resistance di 6.710. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama kekhawatiran. Iran mengindikasikan kesiapan meningkatkan serangan balasan jika terus diserang oleh Amerika, menegaskan sikap tidak akan mundur dalam menghadapi angkatan laut AS.

Tekanan ekonomi global juga terus meningkat, namun Iran tampaknya tidak memiliki pilihan selain melawan. Harga minyak mentah terpantau merangkak naik, dengan minyak WTI mencapai US$ 97 per barel dan Brent melampaui batas aman pertama di level US$ 101,21 per barel. Meskipun demikian, Presiden AS saat itu, Donald Trump, menilai kenaikan harga minyak bukan masalah besar dan memprediksi perang akan berakhir dalam beberapa minggu mendatang, pasca pemilihan anggota kongres paruh waktu pada November.

Pejabat Iran dilaporkan masih berupaya melakukan negosiasi dengan Amerika untuk meringankan tekanan ekonomi, dengan syarat AS mencabut blokade dan kembali ke perjanjian kesepakatan perdamaian. Kekhawatiran akan inflasi yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga minyak telah mendorong imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun naik cepat menyentuh level tertingginya sejak 2023. Kombinasi kenaikan harga minyak dan imbal hasil US Treasury menjadi perhatian serius pelaku pasar menjelang laporan inflasi AS pada 11 September.

Meskipun demikian, IHSG terus menunjukkan tren kenaikan perlahan. Situasi dan kondisi pasar dinilai jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Penguatan IHSG yang mulai kembali bergerak positif, didukung imbal hasil obligasi dalam negeri yang terkendali, perlahan meningkatkan daya tarik bagi pelaku pasar.

Pilarmas Investindo Sekuritas juga akan memantau pertemuan Bank Sentral Eropa yang berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Selain itu, data PPI Final Demand MoM dan YoY dari Amerika Serikat akan menjadi perhatian. Puncak penantian pasar adalah data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada 11 September.

Di sisi lain, pemerintah menargetkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,31%-40,64% pada tahun 2027, dengan pembiayaan yang dijaga pada biaya dan risiko terkendali. Yield Surat Berharga Negara (SBN) 2027 diproyeksikan berada di kisaran 6,5%-7,3%. Pendalaman pasar SBN domestik ditargetkan mencapai 100%, sementara jumlah investor SBN ritel diproyeksikan mencapai sekitar 1,081 juta orang pada 2026, dengan penerbitan SBN ritel ditargetkan Rp160-170 triliun.

“Kami menilai target rasio utang pemerintah di kisaran 40,31%-40,64% terhadap PDB pada 2027 menunjukkan pemerintah masih berupaya menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan yang tetap besar,” tulis Pilarmas. Dengan proyeksi yield SBN 6,5%-7,3%, risiko kenaikan biaya utang perlu tetap diperhatikan, terutama jika suku bunga global masih tinggi. Peningkatan basis investor SBN ritel dinilai positif karena dapat memperkuat sumber pembiayaan domestik dan mengurangi ketergantungan pada investor asing. Secara keseluruhan, arah kebijakan pembiayaan pemerintah dinilai cukup prudent, namun ruang fiskal perlu terus dijaga agar peningkatan utang tidak membebani bunga dan belanja produktif.

Untuk perdagangan Kamis (10/9/2026), Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham ARCI, ANTM, dan AMMN untuk dicermati investor.