Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mulai menjajaki mesin pertumbuhan baru di luar sektor batu bara. Langkah perseroan untuk merambah bisnis nikel dan rencana eksplorasi mineral strategis lainnya membuka peluang ekspansi bisnis sekaligus menciptakan katalis pertumbuhan jangka panjang.
Diversifikasi ini menjadi krusial mengingat kinerja ITMG saat ini masih sangat bergantung pada komoditas batu bara. Dengan merambah mineral yang esensial bagi proses elektrifikasi, perseroan berupaya menyiapkan portofolio bisnis baru yang diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan nilai perusahaan di masa depan.
Langkah konkret pertama telah diambil melalui akuisisi 585 juta saham atau 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) senilai Rp256,23 miliar pada 4 Juli 2025. Kepemilikan ini memberikan ITMG eksposur langsung ke dalam bisnis nikel, sekaligus membuka opsi untuk meningkatkan investasi lebih lanjut apabila prospek dan nilai ekonominya dianggap menarik.
“Kami sudah mulai memasuki bisnis nikel, karena kami percaya bahwa arah dari energi ke depan adalah bagaimana kita bisa men-support elektrifikasi. Dan dari proses elektrifikasi tersebut, salah satunya adalah nikel,” kata Presiden Direktur ITMG Mulianto dalam acara Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Mulianto menambahkan, pihaknya juga akan mempertimbangkan penambahan kepemilikan di NICE. Keputusan ini akan diambil terutama jika langkah tersebut berpotensi memberikan nilai tambah dan selaras dengan strategi investasi perseroan. “Untuk pertanyaan apakah kami akan menambah kepemilikan di NICE, tentu saja itu menjadi pertimbangan kami apabila bisa memberikan value yang lebih. Pada prinsipnya, opsi itu selalu terbuka, tergantung bagaimana value dan strategi kami ke depan,” jelasnya.
Selain nikel, Mulianto menyatakan bahwa perseroan terbuka untuk menjajaki berbagai mineral strategis (strategic minerals) lainnya. Peluang ini terutama akan difokuskan pada mineral yang dinilai memiliki prospek cerah seiring dengan meningkatnya kebutuhan elektrifikasi dan perubahan struktur permintaan energi global.
“Kami tegaskan bahwa ITMG tidak hanya akan fokus pada kinerja hari ini, yaitu batu bara. Tetapi kami juga ingin membangun fondasi untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutur Mulianto.
Kinerja Keuangan yang Solid
Ekspansi bisnis ini didukung oleh posisi keuangan perseroan yang masih kokoh. Pada semester I-2026, pendapatan ITMG tercatat tumbuh 9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$1 miliar. Laba bersih meningkat 17% yoy menjadi US$110 juta, sementara EBITDA naik 11% yoy menjadi US$181 juta.
Pencapaian kinerja positif ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan batu bara sebesar 5% menjadi 12,3 juta ton dan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 4% menjadi US$81 per ton pada paruh pertama tahun ini. Produksi pada periode yang sama tercatat sebanyak 9,9 juta ton.
Neraca keuangan yang solid juga memberikan ruang gerak bagi ITMG untuk membiayai investasi sekaligus mempertahankan distribusi nilai kepada para pemegang saham. Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas perseroan mencapai US$738 juta, ditambah deposito jangka pendek senilai US$66 juta. Total liabilitas tercatat sebesar US$506 juta, sementara ekuitas mencapai US$1,91 miliar.
“Kami sebagai company selalu berkomitmen bahwa rencana-rencana investasi yang dibuat ke depan untuk menopang perkembangan perusahaan, juga seimbang dengan value yang akan diberikan kepada para shareholder,” ujar Mulianto.
Menghadapi Tantangan Operasional
Di sisi lain, perseroan dihadapkan pada potensi kenaikan biaya operasional akibat penurunan debit air di Sungai Mahakam. Kondisi ini memaksa aktivitas pengangkutan batu bara ITMG dari tambang di Melak harus menggunakan kapal tongkang dengan kapasitas yang lebih kecil.
“Sebelumnya kami menggunakan tongkang dengan kapasitas 7.000 yang lebih besar, dan sekarang ini mungkin diturunkan ke level 3.500 atau dengan 4.000. Jadi secara rate, akan berdampak terhadap kenaikan cost,” kata Direktur ITMG Yulius Kurniawan Gozali.
Yulius memperkirakan kenaikan biaya tongkang dapat mencapai sekitar 30-40%. Meskipun demikian, dampaknya terhadap kinerja konsolidasi perseroan diyakini relatif terbatas karena tambang ITMG lainnya di Bontang tidak terdampak langsung oleh kondisi Sungai Mahakam. Kontribusi volume dari tambang tersebut diharapkan dapat membantu mengompensasi kendala logistik di Sungai Mahakam.
Selain tantangan biaya logistik, ITMG juga menghadapi isu kenaikan harga bahan bakar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perseroan terus menerapkan strategi efisiensi operasi dan pengendalian konsumsi bahan bakar.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.