— PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tengah menjajaki jalan tol eksisting sebagai upaya strategis untuk meningkatkan nilai tambah dari bisnis jalan bebas hambatan. Jalan tol masih menjadi tulang punggung pendapatan perseroan, menyumbang sekitar 63% dari total pendapatan konsolidasian tahun buku 2025. Hal ini mendorong emiten BUMN berkode saham JSMR ini untuk terus aktif mencari peluang investasi atau akuisisi guna memperkaya portofolio bisnis jalan tolnya.

Jasa Marga umumnya menggunakan tiga skema dalam memperoleh konsesi jalan tol. Skema pertama adalah mengikuti tender investasi yang diprakarsai pemerintah, kedua berpartisipasi pada tender investasi yang diinisiasi oleh badan usaha, dan skema ketiga melalui akuisisi tol eksisting atau aset brownfield. Dari ketiga opsi tersebut, Jasa Marga mengisyaratkan preferensi lebih pada akuisisi jalan tol eksisting dibandingkan membangun proyek tol baru dari awal (greenfield project). Keputusan ini diambil mengingat minimnya tender proyek jalan tol baru belakangan ini.

“Dalam hal ekspansi tentu sesuai arah strategis, kami terbuka untuk peluang investasi pada sektor brownfield. Mengingat, saat ini tender jalan tol baru tidak terlalu banyak dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya,” ujar Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Rivan A. Purwantono dalam paparan publik, Rabu (9/9/2026).

Meskipun memiliki strategi agresif dalam mencari konsesi, Jasa Marga menekankan akan tetap selektif dalam setiap investasi. Evaluasi komprehensif akan dilakukan, mencakup prospek lalu lintas, konektivitas, jaringan tol eksisting, kelayakan investasi, dan kemampuan finansial perusahaan. Rivan menegaskan bahwa ekspansi Jasa Marga tidak hanya berorientasi pada penambahan ruas tol baru, tetapi juga memastikan setiap peluang investasi memberikan nilai tambah dan mendukung keberlanjutan bisnis.

Untuk itu, perseroan terus berkoordinasi dengan Danantara dan Badan Pengaturan (BP) BUMN selaku pemegang saham mayoritas, serta menjajaki potensi ruas tol kelolaan BUMN Karya yang sedang dalam proses penataan dan optimalisasi portofolio (streamlining). “Jasa Marga berkoordinasi baik dengan pemegang saham, Danantara dan BP BUMN maupun dengan perusahaan-perusahaan yang masuk dalam streamlining. Di mana, proses penataan tersebut juga tetap memerhatikan prinsip tata kelola yang baik (good corporate governance/GCG) yang tidak hanya dilakukan oleh kajian semata, tetapi kajian yang betul-betul komprehensif, fair, dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini yang diharapkan dapat memberikan penciptaan nilai bagi perseroan dan pemangku kepentingan,” jelas Rivan.

Berdasarkan catatan Investor Daily, Jasa Marga menunjukkan minat untuk mengakuisisi Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) sepanjang 39,87 km, yang merupakan salah satu tol di Transjawa milik PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Ketertarikan ini didasari oleh kepemilikan Jasa Marga atas segmen Probolinggo Timur hingga Besuki, serta trafik Tol Paspro yang mendekati perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) dengan angka 23.000. Hal ini menjanjikan dari segi tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR), menjadikan Paspro sebagai tol eksisting yang memenuhi syarat untuk diambilalih karena prospektif dan terkoneksi dengan jaringan tol Jasa Marga.

Belanja Modal dan Kinerja Keuangan

Tahun ini, Jasa Marga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp12 triliun. Dana tersebut difokuskan untuk penyelesaian lima ruas jalan tol baru, yaitu Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan, Akses Patimban, Jogja-Bawen, Jogja-Solo, dan Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi). Hingga semester I-2026, realisasi capex telah mencapai Rp4,4 triliun untuk operasional, pemeliharaan, dan investasi pembangunan jalan tol.

Dari sisi pendapatan, JSMR mencatat pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun pada semester I-2026, tumbuh 7,6% secara tahunan (year on year/yoy). Pendapatan tol mencapai Rp9,5 triliun (naik 6,8% yoy) dan pendapatan usaha lain sebesar Rp798,2 miliar (melonjak 17,6% yoy). Pertumbuhan top-line ini berkontribusi pada profitabilitas perseroan, dengan EBITDA naik 8,1% (yoy) menjadi Rp6,99 triliun, dan EBITDA margin terjaga di level 67,8%.

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp1,91 triliun, tumbuh 2,0% (yoy) pada semester I-2026. Profil risiko utang dikendalikan dengan baik, tercermin dari gearing ratio yang terjaga di level 1,2 kali dan Interest Coverage Ratio (ICR) yang tumbuh menjadi 3,9 kali. Ini menunjukkan kapasitas JSMR untuk menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang untuk agenda investasi strategis dan pengembangan bisnis.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Jasa Marga Tbk Pramitha Wulanjani menambahkan bahwa perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan jalan tol dan EBITDA masing-masing 4-6% di tahun 2026. EBITDA margin ditargetkan 65-67%, gearing ratio di bawah 1,5 kali, dan interest coverage ratio lebih dari 2,5 kali.

Pramitha mengungkapkan bahwa terdapat dua covenant rasio yang dipersyaratkan kreditur: interest bearing debt-to-total equity di level 1,23 kali (maksimum 5 kali) dan interest coverage ratio di level 3,9 kali (di atas maksimum 1,1 kali). “Manajemen memastikan, kedua rasio tersebut akan selalu menjadi fokus dan perhatian utama perseroan dalam menyeimbangkan antara profitabilitas dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” tegasnya.

Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan buy on weakness (BoW) saham JSMR dengan support di 2.920 dan resistance di 3.040. “Target harga di 3.120-3.180,” ujar Herditya kepada Investor Daily, Rabu (9/9/2026).