— Banten – Gubernur Banten, Andra Soni, melaporkan adanya lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayahnya menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau pada pekan ini. Peningkatan kasus ini mencapai 2,5 kali lipat dari kondisi normal.

“Laporan dari Dinkes, ada meningkat 2,5 dari biasanya terkait ISPA di Provinsi Banten,” ujar Andra kepada wartawan pada Rabu (9/9/2026).

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten menunjukkan bahwa kasus ISPA dipicu oleh paparan abu vulkanik. Dalam kondisi normal, jumlah kasus ISPA berkisar di angka 2.000. Namun, laporan di lapangan mencatat angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai sekitar 4.500 kasus.

Menyikapi kondisi ini, Andra meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan pengecekan kualitas udara di Banten. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah kondisi udara telah membaik pascaerupsi.

“Dan kami juga dengan beberapa dinas terkait setelah meminta beberapa update, kemudian saya juga meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan uji mutu udara,” tuturnya.

Akibat kondisi udara pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, Gubernur Andra memutuskan untuk memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga Jumat (11/9). Keputusan ini diambil meskipun kondisi erupsi saat ini sudah jauh membaik dibandingkan Sabtu (5/9).

“Kemarin tiga hari sampai Rabu, ditambah dua hari sampai Jumat (11/9). Perkembangan berikutnya kita pantau,” jelas Andra Soni.

Perpanjangan PJJ dinilai krusial untuk menjaga kesehatan para siswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Pemerintah Provinsi Banten juga menegaskan akan terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026.

“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini, gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” tambah Andra.