Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menunjukkan kinerja keuangan yang solid pada paruh pertama tahun 2026. Kenaikan harga jual rata-rata batu bara dan strategi efisiensi yang diterapkan menjadi pendorong utama performa positif ini, bahkan memunculkan target harga baru untuk saham PTBA.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyatakan optimisme terhadap prospek jangka pendek PTBA. “Kami melihat prospek jangka pendek PTBA akan ditopang oleh pemulihan produksi batu bara dan peningkatan kapasitas logistik,” tulis Sukarno dalam risetnya, dikutip Selasa (8/9/2026).
Pada semester I-2026, PTBA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun, yang merupakan peningkatan 7,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Meskipun volume produksi turun 10% menjadi 19,45 juta ton dan penjualan terkoreksi 2% menjadi 21,1 juta ton, harga jual rata-rata (*average selling price*/ASP) mengalami kenaikan signifikan sebesar 11% menjadi Rp 1,03 juta per ton.
Peningkatan ASP ini berdampak langsung pada profitabilitas. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) melonjak 91% menjadi Rp 3,58 triliun. Laba bersih PTBA pun mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 218%, mencapai Rp 2,65 triliun.
Menyongsong semester kedua tahun 2026, PTBA menargetkan proyek Tanjung Enim-Kramasan dengan kapasitas 20 juta ton per tahun untuk beroperasi secara komersial. Selain itu, kapasitas pelabuhan Kertapati juga akan diperluas dari 8 juta ton menjadi 15,3 juta ton per tahun.
Sukarno menilai ekspansi ini akan memberikan kontribusi positif bagi PTBA. “Ekspansi tersebut diperkirakan meningkatkan volume penjualan, fleksibilitas transportasi, dan efisiensi biaya pada Bukit Asam,” jelasnya.
Lebih lanjut, nisbah kupas (*stripping ratio*) pada semester I tercatat sebesar 5,26 kali, lebih rendah dari panduan tahun 2026 sebesar 5,63 kali. Kondisi ini membuka peluang lebih besar untuk peningkatan produktivitas operasional.
Target Harga Baru Saham PTBA
Menyikapi kinerja positif dan prospek perusahaan, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PTBA. Analis tersebut juga menaikkan target harga saham PTBA untuk periode 12 bulan ke depan menjadi Rp 3.320 per saham, dari sebelumnya Rp 3.260.
Target harga baru ini disusun dengan menggunakan pendekatan nilai aset bersih cadangan (*net asset value*/NAV) dan metode arus kas terdiskonto (*discounted cash flow*/DCF). Saat ini, valuasi saham PTBA tercermin dari rasio *price to earnings* (P/E) sebesar 8,2 kali, *enterprise value to EBITDA* (EV/EBITDA) sebesar 4,8 kali, dan *price to book value* (PBV) mencapai 1,6 kali.
Jika dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis, saham Bukit Asam diperdagangkan pada proyeksi P/E 7,12 kali, sementara rata-rata industri mencapai 13,7 kali. Untuk estimasi PBV, PTBA berada di angka 1,3 kali, sedikit di atas rata-rata industri sebesar 0,89 kali.
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan potensi imbal hasil (*yield*) dividen PTBA akan mencapai 9,1% pada tahun 2026 dan meningkat menjadi 9,6% pada estimasi tahun 2027. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi rasio pembayaran dividen (*dividend payout ratio*) sebesar 75%.
Meski prospek cerah, terdapat beberapa risiko utama yang perlu diwaspadai, antara lain perlambatan ekonomi global, volatilitas harga batu bara, penguatan nilai tukar rupiah, tantangan transisi energi, serta potensi perubahan regulasi di industri pertambangan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.