— JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi tekanan kinerja pada semester pertama tahun 2026, yang menyebabkan laba bersihnya, termasuk pos non-recurring, merosot 19% menjadi Rp 12,5 triliun. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh anjloknya kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat.

Presiden Direktur Astra International, Rudy, menjelaskan bahwa meskipun kinerja Grup pada semester pertama 2026 masih ditopang oleh pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan, kontribusi yang lebih rendah dari sektor pertambangan dan alat berat secara signifikan menekan kinerja konsolidasian Astra.

“Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy dalam Public Expose Live, Kamis (10/9/2026).

Pendapatan bersih konsolidasian Astra pada semester I-2026 tercatat Rp 157,9 triliun, mengalami penurunan 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih tanpa memperhitungkan pos non-recurring turun 7% menjadi Rp 14,9 triliun. Jika memperhitungkan non-recurring items sebesar Rp 2,4 triliun, yang terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan impairment, laba bersih Astra menjadi Rp 12,5 triliun, turun 19%.

Tekanan paling besar datang dari bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat. Laba bersih segmen ini tanpa memperhitungkan non-recurring items anjlok 46% menjadi Rp 2,7 triliun. Penurunan ini dipicu oleh minimnya penjualan emas dari tambang Martabe, penurunan penjualan alat berat, serta melemahnya volume jasa penambangan dan pertambangan batu bara akibat penurunan kuota produksi batu bara nasional atau alokasi RKAB.

Penjualan alat berat Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit. Sementara itu, volume pengupasan lapisan tanah pada bisnis jasa penambangan turun 10% menjadi 481 juta bank cubic metres. Bisnis pertambangan batu bara juga tertekan dengan penjualan batu bara milik sendiri yang turun 10% menjadi 6 juta ton.

Pada bisnis emas, penjualan turun drastis menjadi hanya 23.000 ons dari 125.000 ons pada semester I-2025 akibat penghentian sementara operasional tambang emas Martabe pada awal tahun. Operasional tambang tersebut telah kembali berjalan sejak kuartal II-2026.

Tekanan semakin besar setelah segmen ini membukukan non-recurring items sebesar Rp 2,1 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Dengan memperhitungkan pos tersebut, laba bersih segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat anjlok 88% menjadi Rp 607 miliar.

Dua Bisnis Utama Jadi Penopang Kinerja

Di tengah tekanan sektor pertambangan, dua bisnis utama Astra justru masih mencatat pertumbuhan. Bisnis Otomotif membukukan kenaikan laba bersih 9% menjadi Rp 5,9 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan penjualan mobil baru dan kontribusi divisi komponen.

Penjualan mobil nasional pada semester I-2026 naik 16% menjadi 437.000 unit, sedangkan penjualan mobil Grup Astra meningkat 10%. Toyota dan Daihatsu tetap menjadi merek mobil terlaris pertama dan kedua di Indonesia, dengan pangsa pasar Astra mencapai 51%.

Di segmen roda dua, penjualan sepeda motor nasional tumbuh 1% menjadi 3,1 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda juga naik 1%, dengan pangsa pasar mencapai 77%. Kontribusi laba bersih divisi Komponen bahkan tumbuh 23% menjadi Rp921 miliar. Sementara bisnis Mobilitas mencatat kenaikan penjualan mobil bekas 4% menjadi 15.700 unit dan jumlah kendaraan dalam kontrak meningkat 13% menjadi 29.200 unit.

Sementara itu, bisnis Jasa Keuangan mencatat laba bersih Rp 4,6 triliun, tumbuh 6%. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan pembiayaan konsumen dan kinerja perusahaan asuransi.

Nilai pembiayaan baru divisi pembiayaan konsumen naik 10% menjadi Rp 61,8 triliun. Pembiayaan alat berat juga meningkat 1% menjadi Rp 8,1 triliun. Adapun kontribusi laba bersih bisnis pembiayaan sepeda motor naik 4% menjadi Rp 2,4 triliun, sementara bisnis pembiayaan mobil meningkat 6% menjadi Rp 1,2 triliun. Kontribusi laba bersih bisnis pembiayaan alat berat tumbuh 11% menjadi Rp 130 miliar.

Fokus pada Tiga Bisnis Inti

Pada Mei 2026, Astra mengumumkan Strategy Roadmap baru dengan fokus pada tiga Core Businesses, yakni Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat. Strategi baru ini bertumpu pada empat pilar: Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.

Astra akan memusatkan sumber daya dan investasi pada tiga bisnis inti tersebut, sementara bisnis di luar core business akan dikelola sebagai Wider Businesses dengan penekanan pada sinergi terhadap ekosistem dan kapabilitas Grup. Perseroan juga memperketat kerangka alokasi modal dengan mempertimbangkan imbal hasil bagi pemegang saham.

“Kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin,” kata Rudy.

Strategi tersebut sekaligus membawa Astra lebih agresif dalam mengembalikan modal kepada pemegang saham.

Program Buyback Jumbo dan MSOP

Astra telah memperoleh persetujuan RUPSLB pada 17 Juli 2026 untuk menjalankan program pembelian kembali saham atau share buyback baru dengan nilai maksimal Rp 8 triliun dalam periode 12 bulan. Tidak hanya Astra, anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR), juga menyiapkan buyback saham hingga Rp 2 triliun untuk periode tiga bulan mulai Juli 2026.

Sebelumnya, Astra dan United Tractors telah menyelesaikan program buyback sejak November 2025 dengan total nilai Rp 7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Selain buyback, Astra juga telah menjalankan Management Share Ownership Program (MSOP) jangka panjang pada Juli 2026. Program tersebut ditujukan untuk menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Langkah-langkah ini menjadi bagian dari strategi baru Astra untuk meningkatkan total shareholder return secara berkelanjutan. Dari sisi neraca, Astra masih memiliki kekuatan finansial meski posisi kas bersih berbalik menjadi utang bersih.

Per 30 Juni 2026, utang bersih Astra di luar anak usaha jasa keuangan mencapai Rp 6 triliun, dibandingkan posisi kas bersih Rp 7,2 triliun pada akhir 2025. Perubahan ini terutama dipengaruhi oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, share buyback, serta pergerakan modal kerja. Sementara itu, utang bersih anak usaha jasa keuangan meningkat menjadi Rp 67 triliun dari Rp 64,9 triliun pada akhir 2025.

Nilai aset bersih per saham Astra per 30 Juni 2026 juga meningkat 1% menjadi Rp 5.763. Dengan strategi baru tersebut, Astra menyatakan tetap optimistis menghadapi ketidakpastian global dan akan menjaga disiplin operasional serta alokasi modal. Perseroan menilai kekuatan neraca, keunggulan operasional, serta diversifikasi bisnis akan menjadi modal utama untuk menghadapi tekanan pada sejumlah sektor sekaligus mengejar pertumbuhan jangka panjang dan peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham.