Jurnal Indonesia — Sydney, kota terbesar di Australia, terus berkembang menjadi metropolitan yang matang. Namun, ketersediaan lahan untuk pengembangan rumah tapak semakin terbatas, mendorong pergeseran fokus ke daerah suburban seperti barat, barat daya, dan selatan kota. Pemerintah New South Wales (NSW) dalam cetak biru terbarunya, The Sydney Plan, memprioritaskan pembangunan hunian vertikal di wilayah timur dan pusat kota, sementara wilayah barat dialokasikan untuk pusat kerja baru serta kawasan rumah tapak dan townhouse.
Bagi investor yang baru memasuki pasar Australia, penting untuk memahami bahwa lahan di kawasan suburban yang sudah matang tidak dapat diciptakan lagi. Kelangkaan ini menjadikan setiap proyek hunian baru di kawasan tersebut sebagai peluang investasi yang langka.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ungkap Chandra Leonardi, Director & CEO Capital Value International Group (CVIG).
Batas alam seperti Samudra Pasifik di timur, kawasan terjal Ku-ring-gai Chase National Park dan Hawkesbury River di utara, Royal National Park dan kawasan lindung Woronora di selatan, serta Blue Mountains National Park di barat, secara signifikan membatasi ekspansi kota.
Akibatnya, sebagian besar lahan dalam radius 30 menit dari Sydney Harbour telah terurbanisasi. Lahan kosong berskala besar semakin langka, dan kepemilikan yang terfragmentasi mempersulit pengembangan baru yang membutuhkan konsolidasi lahan kompleks.
Sydney kini lebih mengandalkan infill development, urban renewal, dan densifikasi vertikal di kawasan seperti Parramatta, Macquarie Park, dan sepanjang koridor metro, dibandingkan membuka kawasan suburban baru. Pembangunan yang semakin jauh ke luar kota juga meningkatkan waktu tempuh dan kebutuhan investasi infrastruktur.
Hal ini menciptakan paradoks di Sydney: kota membutuhkan lebih banyak rumah, namun memiliki semakin sedikit lahan untuk membangun di lokasi yang dekat dengan pusat ekonomi dan fasilitas kota. Bagi pembeli asing, akses lebih sempit karena hanya bisa membeli properti baru dan proyek off-the-plan. Keterbatasan lahan baru dan akses terbatas ke hunian yang sudah ada semakin memperjelas kelangkaan.
“Karena itu, pertanyaan investasinya bukan sekadar “Di mana Sydney akan berkembang?” melainkan, “Berapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi Sydney yang paling diinginkan—dan berapa banyak yang benar-benar dapat diakses oleh foreign buyers?” Di situlah nilai kelangkaan Sydney sebenarnya berada,” ungkap Chandra.
Investor properti Indonesia yang mencari rumah tapak di Sydney sering kali mempertimbangkan kawasan populer seperti Sydney CBD, Eastern Suburbs, atau Northern Beaches. Namun, tingginya harga di area tersebut mendorong banyak orang untuk melirik daerah suburban yang menawarkan aksesibilitas, lingkungan, dan potensi pertumbuhan investasi jangka panjang.
Salah satu kawasan yang mulai menarik perhatian adalah Roselands di Barat Daya Sydney. Kawasan ini didominasi lingkungan residensial dengan komunitas keluarga yang kuat, menjadikannya alternatif yang tenang namun tetap memiliki akses dekat ke pusat kota.
Investasi Jangka Panjang di Roselands
Di tengah keterbatasan lahan hunian Sydney, Roselands menawarkan kombinasi langka: properti tapak di kawasan metropolitan, komunitas keluarga yang kuat, konektivitas yang baik, dan pasokan properti yang relatif terbatas. Kombinasi ini menjadi fundamental bagi potensi pertumbuhan modal jangka panjang (long-term capital growth).
Roselands memiliki pusat aktivitas komersial di sekitar Roselands Shopping Centre dan terhubung melalui jaringan bus serta akses ke kereta, M5, dan M8. Konektivitas yang baik terhadap transportasi dan fasilitas sehari-hari menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik kawasan bagi pengguna akhir, yang pada akhirnya mendukung permintaan properti yang berkelanjutan.
Karakter demografi Roselands juga memperkuat fundamentalnya. Lebih dari 53% rumah dihuni pasangan dengan anak, dan sekitar 70% penduduk adalah pemilik rumah. Data ini menunjukkan permintaan di Roselands berasal dari keluarga yang menjadikannya tempat tinggal jangka panjang, bukan semata dari investor. Pasar yang didominasi owner-occupiers cenderung menciptakan basis permintaan yang lebih stabil.
Faktor lain yang menarik adalah keterbatasan pasokan. Roselands merupakan pasar yang relatif tightly held, di mana pemilik cenderung mempertahankan properti mereka dalam jangka panjang. Ini berarti jumlah rumah yang aktif beredar di pasar terbatas.
Kombinasi permintaan keluarga yang berkelanjutan, tingkat kepemilikan rumah yang tinggi, dan pasokan yang terbatas menciptakan dinamika penawaran-permintaan yang menarik. Meningkatnya jumlah orang yang membutuhkan rumah di kawasan tersebut, sementara semakin sedikit pemilik yang bersedia menjual, dapat meningkatkan kompetisi terhadap aset yang tersedia.
“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential,” tambah Chandra.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.