Jurnal Indonesia — Lamine Yamal Nasraoui Ebana telah menorehkan sejarah sebagai pemain termuda yang memenangkan Piala Dunia dan Euro Championship. Namun, pengaruhnya tak terbatas di lapangan hijau, ia juga menjelma menjadi fenomena di dunia maya.
Pada usia 19 tahun enam hari, Yamal membuktikan dominasinya baik di dunia nyata maupun digital. Gerakan selebrasi khasnya, membentuk gestur jari angka ‘304’, dengan cepat menjadi viral di media sosial. Angka ‘304’ merujuk pada kode pos lingkungan Rocafonda di Mataro, Spanyol, tempat ia dibesarkan.
Gerakan ini menjadi simbol kebanggaan dan identitas bagi kaum imigran serta anak muda yang memulai dari nol. Pesan kuat di balik ‘304’ bahkan mendorong pemain FC Barcelona ini untuk mendaftarkan gestur selebrasi golnya ke Kantor Kekayaan Intelektual Uni Eropa (EUIPO). Pendaftaran merek tersebut mencakup berbagai produk mulai dari pakaian olahraga, sepatu, tas, bola, hingga video game dan turnamen olahraga.
Pengaruh Besar di Media Sosial
Dengan pengikut lebih dari 52,4 juta di Instagram (@lamineyamal) dan 3,29 juta pelanggan di YouTube, Yamal memiliki jangkauan digital yang masif. Video pertamanya yang sederhana, menampilkan sepak bola, keluarga, trofi, dan kehidupannya, meraih lima juta penonton dalam waktu kurang dari 24 jam.
Judul video seperti ‘my tour house’, ‘my trip to Dubai’, dan ’24h in my life’ masing-masing ditonton lebih dari 10 juta kali hanya dalam hitungan bulan, menunjukkan daya tarik konten personalnya.
Tren Potongan Rambut Lamine Yamal
Seiring popularitasnya yang meroket selama Euro 2024, gaya rambut ikal bergradasi Yamal turut diminati jutaan anak muda. Di TikTok dan Instagram, banyak yang mengunggah video transformasi rambut mereka, meniru gaya ikonik kebanggaan timnas Spanyol tersebut.
Tak hanya gaya rambutnya, tukang cukur pribadinya, Bryan Guardado, juga mencuri perhatian saat datang ke hotel timnas Spanyol dengan mobil mewah Rolls-Royce Spectre, sebuah insiden yang kembali menjadi sorotan di panggung Piala Dunia 2026.
Mengetahui Batasan Diri
Meski memiliki pengaruh besar dan menampilkan persona yang penuh semangat serta percaya diri, Lamine Yamal juga menunjukkan kedewasaan dalam mengelola citra online-nya. Ia tak ragu membela diri ketika menerima kritik, seperti yang terjadi setelah final UEFA Nations League melawan Portugal.
Menanggapi hujatan, Yamal mengunggah beberapa foto di Instagram dengan pesan, “Mereka mengeluh tentang hal buruk, dan memanfaatkan hal baik.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kritik seringkali tidak pandang bulu, baik terhadap penampilan yang buruk maupun baik.
Yamal memahami pentingnya batasan. Pada laga El Clasico akhir tahun 2025, ia memutuskan untuk membatasi penggunaan internet guna mengurangi paparan terhadap komentar negatif dan toksik. Keputusan ini diambil setelah berkonsultasi dengan orang terdekatnya, yang melibatkan pengurangan drastis dalam mengunggah konten media sosial untuk meredam pemberitaan seputar kehidupan pribadinya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.