— Perjalanan menuju kehamilan seringkali penuh liku, terutama bagi pasangan yang harus berjuang lebih lama untuk mendapatkan buah hati. Kartika adalah salah satu pejuang garis dua yang akhirnya merasakan kebahagiaan setelah penantian lima tahun. Buah hatinya, Beatrice, kini telah tumbuh menjadi gadis cilik berusia 6 tahun.

Kisah perjuangan Kartika ini dibagikan dalam acara Bocah Indonesia Family Reunion. Acara tersebut bertujuan untuk mempertemukan kembali keluarga-keluarga yang pernah menjalani program hamil bersama Bocah Indonesia, merayakan perjalanan panjang mereka mulai dari harapan, pemeriksaan kesuburan, hingga akhirnya menyambut kehadiran sang buah hati.

“Setiap keluarga yang hadir hari ini membawa cerita perjuangan yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan, yaitu harapan yang tidak pernah padam. Bagi kami di Bocah Indonesia, melihat anak-anak seperti Beatrice tumbuh sehat dan bahagia bersama keluarganya menjadi pengingat terbesar mengapa kami melakukan semua ini,” ujar Founder Bocah Indonesia, dr Pandji Sadar, MBBS AMPH.

Sebelum memutuskan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), Kartika sempat mencoba prosedur inseminasi intrauterin (IUI). IUI adalah metode medis di mana sperma yang telah dibersihkan dimasukkan langsung ke dalam rahim wanita pada masa subur. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Dari pemeriksaan yang dilakukan di Bocah Indonesia, terungkap bahwa Kartika mengalami masalah infertilitas primer. “Infertilitas primer adalah kondisi ketika pasangan belum pernah mendapatkan kehamilan sebelumnya meskipun telah melakukan hubungan seksual secara rutin tanpa kontrasepsi selama 12 bulan atau atau 6 bulan pada wanita berusia ≥35 tahun,” jelas dr Panji.

Dr Panji menegaskan bahwa infertilitas tidak selalu berasal dari pihak perempuan. “Faktor dapat berasal dari perempuan, laki-laki, keduanya, atau bahkan tidak ditemukan penyebab yang jelas,” katanya.

Penanganan infertilitas sangat bergantung pada penyebabnya. Beberapa penanganan yang umum meliputi:

  • Memperbaiki pola hidup dan mengatur waktu hubungan seksual.
  • Terapi obat untuk mengatasi gangguan ovulasi atau hormonal.
  • Tindakan operatif jika terdapat masalah anatomi.
  • Prosedur IUI pada kondisi yang sesuai.
  • Program IVF dan ICSI, terutama jika terdapat gangguan faktor sperma tertentu atau kondisi infertilitas lainnya.

“Yang penting, evaluasi sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan, bukan hanya perempuan atau laki-laki saja, agar penyebab dapat ditemukan dan terapi yang dipilih lebih tepat,” tegas dr Panji.

Ternyata, tidak hanya Kartika yang menghadapi masalah ketidaksuburan. Suaminya juga didiagnosis mengalami astenoteratozoospermia, yaitu kondisi di mana kualitas sperma bermasalah pada pergerakan (motilitas) yang rendah dan bentuk (morfologi) yang tidak normal. “Kondisi ini dapat membuat sperma lebih sulit bergerak menuju sel telur untuk melakukan fertilisasi,” terang dr Panji.

Berbagai faktor dapat menyebabkan astenoteratozoospermia, termasuk varikokel, infeksi, gangguan hormon, kebiasaan merokok, obesitas, paparan panas berlebih, stres, dan lainnya yang memerlukan evaluasi dokter. Penatalaksanaan awal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Perubahan gaya hidup dan menghindari faktor yang menurunkan kualitas sperma.
  • Terapi untuk mengatasi kondisi penyebabnya, seperti varikokel atau gangguan hormonal.
  • Pemberian suplemen/antioksidan sesuai anjuran dokter.
  • Pertimbangan teknologi reproduksi berbantu seperti IUI atau IVF-ICSI jika diperlukan, terutama pada gangguan sperma yang berat atau adanya faktor infertilitas lain.

Dengan kondisi tersebut, pasangan ini akhirnya memilih program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) melalui metode fresh transfer. Prosedur ini melibatkan pengambilan sel telur istri setelah stimulasi ovarium, lalu dipertemukan dengan sperma suami di laboratorium. Embrio yang telah terbentuk kemudian ditransfer langsung ke dalam rahim ibu, biasanya pada hari ke-3 atau ke-5 setelah pembuahan, dengan harapan embrio akan menempel dan berkembang hingga kelahiran.