— Liu Hanqing, yang pernah disanjung sebagai bocah jenius di China, kini hidup sendiri di pedesaan dengan penghasilan pas-pasan: subsidi bulanan sebesar 400 yuan atau sekitar Rp 1 jutaan.

Lahir dari keluarga petani miskin di Taizhou, Liu kini berusia awal 60-an. Sejak kecil ia menunjukkan kecerdasan luar biasa, mampu menghafal teks klasik dan mempelajari kalkulus otodidak pada usia 11 tahun.

“Saya selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah saat SD dan SMP,” kenang Liu dalam wawancara tahun 2017 dengan Sina News.

Pada usia 16 tahun, Liu diterima di Institut Teknologi Harbin dengan nilai ujian masuk hampir sempurna, 398,5 dari 400, memilih jurusan pemrosesan termal. “Nilai ini lebih dari 10 poin di atas standar nilai untuk universitas unggulan,” katanya.

Di tahun tersebut, 3,33 juta orang mengikuti ujian masuk universitas, dan hanya 280.000 yang diterima. Bagi pelajar pedesaan pada awal 1980-an, masuk universitas top merupakan pencapaian besar.

Liu menjadi kebanggaan kampungnya. Ayahnya menggelar pesta dan warga berkumpul mengantarkannya ke universitas dengan perahu, diiringi tabuhan genderang. “Tidak ada yang menyangka phoenix emas bisa terbang dari desa kecil kita,” kata kepala desa pada saat itu.

Matematika Mengambil Alih

Sebagai mahasiswa termuda di kelas, Liu terus meraih prestasi akademik yang menonjol dan menempatkan harapan besar di pundaknya oleh para dosen.

Namun perubahan drastis terjadi pada tahun ketiga ketika Liu membaca tentang matematikawan China, Chen Jingrun, yang memecahkan bagian dari Konjektur Goldbach. Sejak saat itu ia terobsesi untuk melampaui pencapaian tersebut.

Obsesi itu membuat Liu mengabaikan kuliah jurusannya. Ia tidur dua jam sehari dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di perpustakaan. Universitas memberi izin kerja paruh waktu di departemen matematika sementara profesor memantau risetnya, namun ditemukan kelemahan mendasar dalam logika dan metode yang digunakan tidak memiliki fondasi kuat.

“Saat itu, saya tidak peduli semua itu. Saya hanya belajar sendiri dan tidak menghadiri kelas jurusan apa pun,” katanya.

Akhirnya Liu gagal lulus dan terpaksa meninggalkan universitas. Kepala departemen menyatakan bahwa Liu adalah mahasiswa berprestasi pada dua tahun pertama, tetapi kemudian mengabaikan mata kuliahnya.

Harga Sebuah Obsesi

Pada 1985, ketika banyak teman sekelasnya memperoleh pekerjaan bergengsi, Liu kembali ke desanya. Ia tidak melamar pekerjaan dan tetap fokus meneliti matematika.

Awalnya orang tuanya mendukung, tetapi seiring waktu dukungan itu pudar. Selama tiga dekade berikutnya, Liu hanya menerbitkan satu makalah akademik.

Teman-temannya mengunggah makalah itu ke media sosial luar negeri. Seorang pemegang gelar PhD matematika asal Finlandia dilaporkan mengatakan karya itu terlalu banyak kesalahannya sehingga tidak layak menjadi makalah ilmiah.

Menjelang 2007, kesehatan Liu memburuk dan ia tak lagi sanggup begadang untuk melanjutkan pekerjaannya. Pada 2008, sekolah setempat mengundangnya untuk mengajar di SD, tetapi ia menolak karena kondisi kesehatannya.

Sekarang Liu tinggal di rumah tua yang mulai rusak dengan sedikit barang berharga. Beberapa tahun lalu pihak desa membantu mengajukan tunjangan untuknya. Pada 2017, mantan teman-teman sekelasnya menggalang dana untuk memperbaiki rumahnya, membelikannya ponsel, dan memasang internet.

Kisah Liu kembali viral di media sosial China belakangan ini. Sebagian orang menggambarkannya sebagai pria yang termakan obsesi, sementara yang lain melihatnya sebagai sosok yang mengabdikan puluhan tahun untuk ilmu tanpa menghiraukan kekayaan atau status.

Saat ditanya apakah ia menganggap dirinya sukses, Liu menjawab tenang: “Apa itu sukses? Apakah memiliki uang dan karier berarti sukses?”

“Saya rasa jika Anda pandai dalam matematika, itu bisa disebut sukses. Bagi saya, saya tidak ingin berubah. Saya mungkin tidak memiliki kekayaan materi, tetapi saya memiliki kebebasan batin,” pungkasnya.

Simak Video “Video China Pamer Robot Skating, Lincah Banget!”