Jurnal Indonesia — Bryan Johnson, pengusaha teknologi 48 tahun yang dikenal intens melakukan program longevity, mengumumkan ia didiagnosis mengidap penyakit autoimun pada lambung. Kabar ini muncul meski Johnson menyatakan telah menghabiskan jutaan dolar untuk menjalani intervensi kesehatan dan mempekerjakan tim medis pribadi.
Johnson mengatakan kondisi yang didiagnosis sebagai gastritis autoimun (autoimmune gastritis/AIG) membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel lambung. Ia mengungkapkan akan mencoba mengatasi penyakit itu dan berjanji membagikan prosesnya kepada publik.
Penyakit yang disebut Johnson seringkali muncul tanpa gejala jelas dan dapat meningkatkan risiko kanker. Menurut penjelasan yang disampaikan, AIG adalah kondisi di mana antibodi tubuh menyerang jaringan lambung hingga menimbulkan kerusakan.
Perhatian terhadap kesehatannya meningkat setelah tim medis pribadi Johnson menemukan kekurangan zat besi kronis, meskipun tidak didapati anemia yang jelas. Serangkaian tes kemudian mengonfirmasi diagnosis gastritis autoimun pada tahap awal.
Intervensi Kesehatan yang Dilakukan
Johnson mengungkap telah mengeluarkan biaya besar untuk program kesehatan yang melibatkan sejumlah intervensi tidak lazim. Ia menyebut mempekerjakan dokter pribadi yang memantau berbagai indikator kesehatannya secara intensif, termasuk penggunaan darah anggota keluarga dan pemantauan fungsi seksual sebagai bagian dari protokol.
Pengakuan tersebut menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas praktik biohacking yang dijalaninya, serta apakah gaya hidup yang sangat terfokus pada perpanjangan umur berkontribusi terhadap kondisi yang muncul. Johnson menanggapi kritik dengan menyatakan diagnosis itu berawal lebih dari dua dekade lalu.
“Ini adalah diagnosis dari kondisi yang mulai muncul di dalam tubuh saya lebih dari 20 tahun yang lalu. Jika saya tidak merawat tubuh dengan baik selama beberapa tahun terakhir, kondisinya pasti akan jauh lebih buruk. Masalah kesehatan akan selalu muncul, sesehat apa pun seseorang,”
Johnson juga menyinggung riwayat kesehatan masa lalu, termasuk kebiasaan makan berlebih terhadap gula dan tingkat stres tinggi saat berusia 20-an yang sempat menaikkan berat badannya. Ia menyebut pernah didiagnosis hipotiroidisme pada usia 21 tahun.
Dalam pernyataannya, Johnson mengatakan akan terus mencoba berbagai pendekatan medis dan membagikan perkembangan penanganannya kepada publik.
Ikuti Jurnal Indonesia
