— Jakarta – Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat (TLM) berperan sebagai ‘kakak asuh’ bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di berbagai wilayah Indonesia Timur. Inisiatif ini menunjukkan perkembangan koperasi yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga membangun ekosistem yang saling menguatkan.

Model pendampingan ini membuktikan bahwa koperasi dapat tumbuh melalui kolaborasi dan gotong royong antar koperasi, dengan dukungan dari pemerintah serta lembaga pembiayaan.

Menteri Koperasi Republik Indonesia (Menkop), Ferry Juliantono, menegaskan bahwa pendekatan ‘kakak asuh’ adalah strategi krusial untuk mempercepat penguatan KDKMP di seluruh Indonesia. “Saya sudah sampaikan kepada LPDB dan Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat untuk bersama-sama membantu pengembangan bisnis koperasi di tingkat desa dan kelurahan, mulai dari memperluas usaha hingga memperkuat pembiayaan permodalan. Ini penting agar koperasi benar-benar menjadi kekuatan ekonomi baru masyarakat,” ujar Ferry dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa kehadiran KDKMP bukan sekadar program, melainkan instrumen untuk menjadikan masyarakat desa sebagai pelaku ekonomi aktif melalui akses permodalan yang nyata.

Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat, yang memiliki kinerja impresif dengan aset menembus Rp1,2 triliun, tidak hanya berhenti pada layanan simpan pinjam. Koperasi ini melakukan diversifikasi usaha di sektor riil, penguatan jaringan distribusi, hingga pendampingan koperasi baru di tingkat desa dan kelurahan.

Salah satu contoh konkret adalah pendampingan terhadap KDKMP Manulai II di Kupang. Melalui skema kolaborasi usaha, koperasi tersebut membantu penyediaan produk, sistem konsinyasi, hingga penguatan kapasitas usaha anggota. Dampaknya mulai terlihat dari peningkatan aktivitas ekonomi dan potensi omzet koperasi yang terus berkembang.

Direktur Bisnis LPDB Koperasi, Oetje Koesoema Prasetia, menegaskan bahwa LPDB hadir untuk memperkuat pola kemitraan antar koperasi sebagai bagian dari strategi nasional pengembangan koperasi berbasis ekosistem. “Apa yang dilakukan oleh Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat menunjukkan bahwa koperasi yang kuat dapat menjadi lokomotif bagi koperasi lain di tingkat akar rumput. LPDB Koperasi hadir untuk memperkuat peran tersebut melalui dukungan pembiayaan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Oetje.

Ia menambahkan, sinergi antara LPDB, koperasi besar, serta dukungan pemerintah daerah menjadi kunci dalam membangun sistem pembiayaan yang inklusif. “Sejalan dengan arahan Menteri Koperasi, kami mendorong kolaborasi pembiayaan antara LPDB, koperasi, dan perbankan dalam skema joint financing. Dengan begitu, koperasi desa dan kelurahan tidak hanya tumbuh, tetapi juga memiliki daya tahan dan daya saing dalam jangka panjang,” jelas Oetje.

Program KDKMP yang kini telah terbentuk di puluhan ribu desa menjadi tonggak penting dalam mengembalikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Melalui dukungan pembiayaan, pendampingan, serta kehadiran ‘kakak asuh’ seperti Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat, koperasi di tingkat desa diharapkan mampu berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi, mulai dari distribusi barang, pengolahan hasil produksi, hingga penguatan kesejahteraan masyarakat.

Kolaborasi ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya ekosistem koperasi modern Indonesia yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.