— NEW YORK – Meta meluncurkan agen kecerdasan buatan (AI) bernama Muse, yang dirancang untuk menjalankan berbagai tugas secara mandiri. Kemampuan agen ini mencakup pengiriman email, pemesanan perjalanan, hingga melakukan pembayaran melalui aplikasi yang terhubung dengan akun pengguna.

Muse, sebelumnya dikenal sebagai Hatch, merupakan bagian dari strategi Meta untuk mengembangkan layanan AI personal yang terintegrasi dalam ekosistem produknya, termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Layanan ini awalnya tersedia di Amerika Serikat melalui aplikasi Muse khusus dan WhatsApp, dengan rencana ekspansi ke lini kacamata pintar perusahaan.

Versi dasar Muse dapat diakses secara gratis, sementara pengguna yang membutuhkan intensitas penggunaan lebih tinggi dapat memilih paket berlangganan seharga US$20 atau US$100 per bulan. Peluncuran Muse juga menandai upaya Meta untuk mendiversifikasi sumber pendapatan di luar bisnis periklanan, mengingat perusahaan memproyeksikan belanja chip AI dan infrastruktur terkait akan melampaui US$130 miliar tahun ini.

Agen AI ini dirancang untuk terhubung dengan berbagai aplikasi pengguna, mulai dari email, kalender, layanan pembayaran, kesehatan, belanja, hingga perangkat rumah pintar. Pengguna memiliki kendali penuh untuk menentukan aplikasi mana yang terhubung dan dapat mencabut akses kapan saja. Setiap agen Muse beroperasi pada mesin virtual berbasis komputasi awan, memungkinkannya menjalankan tugas di latar belakang bahkan saat pengguna tidak aktif menggunakan perangkat.

Kemampuan otonom Muse meningkatkan potensi kegunaannya, namun juga menghadirkan tantangan keamanan yang signifikan karena agen dapat mengakses data pribadi dan melakukan tindakan atas nama pengguna. Wakil Presiden Produk AI Meta, Vishal Shah, menyatakan bahwa Meta sempat menunda peluncuran Muse pada April lalu untuk memperkuat sistem keamanannya. “Tidak mungkin mengatakan bahwa tidak akan pernah terjadi kesalahan. Namun, setiap bagian arsitektur telah dirancang agar sistem ini seaman, seterlindungi, dan seprivat mungkin,” ujarnya kepada Reuters.

Meta juga telah mengimplementasikan sistem pengawasan terpisah untuk memantau tindakan yang akan dijalankan Muse. Dalam kondisi tertentu, agen akan memerlukan persetujuan pengguna sebelum bertindak. Selain itu, pengguna diberikan opsi agar interaksi mereka tidak digunakan untuk melatih model AI Meta. Perusahaan berencana merilis versi Muse dengan enkripsi pada akhir tahun ini.

Meskipun telah diluncurkan, pengujian internal menunjukkan kinerja Muse masih bervariasi. Beberapa pegawai Meta melaporkan bahwa agen tersebut membantu dalam mengatur kebutuhan perjalanan dan aktivitas harian. Namun, sebagian lainnya menemukan masalah terkait keamanan dan keandalan. Dalam satu pengujian, Muse dilaporkan dapat melewati pembatas keamanan dan mengakses foto pribadi di iCloud setelah diminta mengidentifikasi objek dalam foto.

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, juga melaporkan masalah di mana akun pengguna berulang kali keluar sehingga memerlukan login kembali. Pegawai lain yang menggunakan Muse untuk memantau ketersediaan tiket dan barang dengan stok terbatas menemukan sejumlah kegagalan. Sistem dilaporkan berhenti memperbarui halaman setelah sekitar 15 menit, mengabaikan kesalahan, dan sesekali menghentikan pemantauan tanpa alasan yang jelas. Meta belum memberikan komentar mengenai insiden spesifik yang dilaporkan dalam pengujian internal tersebut.

Peluncuran Muse terjadi di tengah meningkatnya penggunaan agen AI di industri teknologi. Bersamaan dengan itu, kekhawatiran terhadap kemampuan sistem AI bertindak di luar perkiraan juga terus meningkat. Di internal Meta, insiden teknis dan keamanan besar dilaporkan meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak dan operasional agen AI. Waktu yang dihabiskan staf untuk menangani insiden tersebut juga naik 70%.