Jurnal Indonesia — JAKARTA – Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) oleh Morgan Stanley kembali menjadi perhatian. Setelah sebelumnya sempat meningkatkan kepemilikan hingga masuk dalam jajaran pemegang saham besar, Morgan Stanley dilaporkan mengalihkan 7,4 miliar saham GOTO melalui transaksi repurchase agreement (repo) pada 4 September 2026.
Transaksi repo tersebut mencakup 1,45 miliar saham GOTO yang dialihkan pada harga Rp 27 per saham dan 5,95 miliar saham pada harga Rp 25 per saham. Total nilai dari transaksi ini mencapai Rp 186,6 miliar.
“Berdasarkan disclosure terbaru, transaksi 7,4 miliar saham GOTO pada 4 September 2026 merupakan repo, bukan penjualan putus biasa,” ungkap Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam catatan risetnya pada Kamis (10/9/2026).
Dalam mekanisme repo, saham dialihkan kepada pihak lawan transaksi sebagai jaminan untuk memperoleh pendanaan. Terdapat kesepakatan bahwa saham tersebut akan dibeli kembali oleh pihak penjual pada waktu dan harga yang telah ditentukan.
Oleh karena itu, Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan kepemilikan Morgan Stanley di GOTO dari 7,38% menjadi 6,98% tidak serta merta menandakan aksi keluar atau bearish exit dari emiten teknologi tersebut. Kepemilikan yang tersisa ini bersifat tidak langsung dan tidak mengendalikan.
Pasar kemudian menyoroti adanya transaksi saham GOTO di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (10/9/2026). Pada sesi I perdagangan, tercatat transaksi terbesar sejumlah 3.722.247.659 saham GOTO dengan harga Rp 25 per saham, yang setara dengan nilai sekitar Rp 93,1 miliar.
Namun, Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa transaksi di pasar negosiasi tersebut belum dapat dipastikan berasal dari Morgan Stanley atau merupakan kelanjutan dari transaksi repo yang sama, mengingat minimnya data mengenai broker dan pihak lawan transaksi. Penetapan harga Rp 25 per saham juga bisa mencerminkan kesepakatan bilateral dan diskon nilai agunan, bukan semata-mata ekspektasi pasar bahwa harga GOTO di pasar reguler akan turun hingga level tersebut.
Pembentukan Harga Baru
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan perubahan harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 pada 7 September 2026. Namun, implementasi aturan baru ini ditunda karena delapan anggota bursa (AB) belum siap. Target terbaru untuk penerapan aturan ini adalah pada pekan ketiga atau keempat September.
Selama aturan baru mengenai harga minimum belum berlaku, saham GOTO masih tertahan di level Rp 50 di pasar reguler. Meskipun demikian, transaksi saham dengan harga di bawah Rp 50 tetap dimungkinkan terjadi di pasar negosiasi.
Secara fundamental, GOTO menunjukkan perbaikan kinerja. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp 252 miliar pada kuartal II-2026. Pendapatan bersih pada kuartal II-2026 tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan melonjak 137% menjadi Rp 1,01 triliun.
Kiwoom Sekuritas menegaskan bahwa investor perlu memisahkan antara perbaikan fundamental perusahaan dengan proses pembentukan harga saham GOTO. Potensi tekanan jual dari pemegang saham besar tetap perlu dicermati ketika batas harga Rp 50 di pasar reguler dibuka dan harga saham kembali sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasokan dan permintaan pasar.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.