Jurnal Indonesia — JAKARTA – Nathan Thomas, seorang pemuda berusia 18 tahun 346 hari, telah resmi dinobatkan sebagai profesor termuda di dunia. Pencapaian ini memecahkan rekor yang telah bertahan selama lebih dari tiga abad, menandai sebuah prestasi luar biasa di bidang akademik.
Thomas bergabung dengan Miami Dade College di Amerika Serikat pada Agustus 2023 sebagai profesor luar biasa di bidang teknik. Rekor sebelumnya dipegang oleh matematikawan Skotlandia, Colin Maclaurin, yang menjadi profesor pada usia 19 tahun. Guinness World Records mencatat bahwa Thomas juga lebih muda dari Alia Sabur, profesor perempuan termuda yang meraih gelar tersebut pada tahun 2008 di usia 18 tahun 362 hari.
Saat ini berusia 21 tahun, Thomas mengajar kuliah teknik di School of Engineering, Technology & Design, Kampus Kendall. Dekan School of Engineering, Technology & Design, Manny Perez, menyatakan kebanggaannya atas kehadiran Thomas di staf pengajar. “Saya bangga memilikinya sebagai bagian dari staf kami,” ujar Perez.
Thomas mengakui bahwa mengajar mahasiswa yang usianya hampir sebaya bukanlah sebuah kendala. Ia menekankan bahwa fokus utama di dalam kelas adalah pembelajaran. “Begitu di ruang kelas, semua orang ada di sana dengan alasan yang sama, yaitu belajar,” ungkapnya kepada Guinness World Records.
Ia menambahkan, “Faktor usia sebenarnya tidak berpengaruh. Saya hanya fokus menjalankan tugas dengan baik dan membantu mahasiswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha keras, itu lebih dari cukup.”
Lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai insinyur, Thomas mengembangkan minatnya terhadap sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sejak usia dini. Ibunya memiliki peran penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap topik-topik yang kompleks. “Ibu punya cara untuk membuat hal-hal terasa sederhana bahkan ketika sebenarnya rumit,” tuturnya.
Thomas menjalani pendidikan homeschooling sejak usia lima tahun. Keluarganya memanfaatkan perjalanan ke lebih dari 20 negara sebagai sarana pembelajaran, dengan menjadikan museum, situs bersejarah, dan tempat umum sebagai ruang kelas.
Matematika menjadi mata pelajaran pertama yang sangat menarik baginya, yang kemudian memicu kecintaannya pada bidang STEM. Pada usia 10 tahun, ia mulai mengikuti kuliah ganda di Miami Dade College. Empat tahun kemudian, ia meraih gelar sarjana muda matematika, menjadikannya lulusan termuda kampus tersebut. Rekor ini sempat dipegang hingga April 2025, sebelum dipecahkan oleh adiknya, Noah, yang lulus tiga bulan lebih muda.
Sebelum berusia 19 tahun, Thomas telah menyelesaikan gelar sarjana dan magister teknik elektro dengan predikat *with honors* dari Florida International University. Pada Agustus 2023, ia kembali ke Miami Dade College sebagai profesor luar biasa di bidang teknik, dan mencatatkan diri sebagai profesor termuda dalam sejarah institusi itu.
Usianya yang muda seringkali mengejutkan para mahasiswa. Mahasiswa yang lebih muda kerap takjub karena profesor mereka seusia, sementara mahasiswa yang lebih tua terkadang bercanda bahwa usia Thomas cukup muda untuk menjadi anak mereka.
Dikutip dari VNExpress, Thomas menyusun metode perkuliahan secara kolaboratif. Ia mengungkapkan bahwa bagian paling berharga dari mengajar adalah menyaksikan mahasiswa memahami konsep yang awalnya dianggap sulit.
Saat ini, Thomas mengajar secara daring sembari menempuh pendidikan hukum di University of Miami School of Law. Ia berencana mengambil spesialisasi hukum kekayaan intelektual dengan fokus pada bidang terkait STEM. Di luar kegiatan akademis, ia memiliki hobi bermain basket, tenis, golf, dan piano klasik.
Meskipun telah meraih banyak pencapaian, Thomas mendorong orang lain untuk fokus pada perjalanan hidup masing-masing tanpa membandingkan diri dengan orang lain. “Menurut pendapat saya, jauh lebih baik menemukan apa yang benar-benar cocok untuk Anda dan konsisten dengannya, bahkan ketika terasa lambat. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi saya benar-benar percaya semua itu akan datang seiring berjalannya waktu jika Anda terus berjuang dan berusaha keras,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.