Jurnal Indonesia — Penguatan hilirisasi hasil riset pangan dinilai krusial agar kekayaan biodiversitas dan pengetahuan lokal Indonesia mampu bertransformasi menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Upaya ini membutuhkan sinergi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk memastikan hasil penelitian dapat bergerak dari tahap laboratorium menuju produksi, standardisasi, rantai pasok, hingga akhirnya menjangkau pasar.
Salah satu contoh nyata pengembangan hilirisasi pangan adalah riset Ragi Nusantara yang dipimpin oleh Prof. Wellyzar Sjamsuridzal dari Universitas Indonesia. Riset ini berfokus pada eksplorasi keragaman mikroorganisme Rhizopus yang berperan dalam fermentasi tempe. Tujuannya adalah mengidentifikasi jenis ragi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Prof. Wellyzar menjelaskan bahwa pengembangan ragi tempe tidak hanya menyentuh aspek teknologi fermentasi, tetapi juga pemanfaatan biodiversitas Indonesia sebagai fondasi penguatan ketahanan pangan. “Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya dalam diskusi yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Jakarta.
Tempe memiliki potensi pengembangan yang luas, melampaui sekadar pangan tradisional. Ia melibatkan teknologi fermentasi, rantai pasok yang kompleks, partisipasi pelaku usaha, dan peluang pasar yang menjanjikan. Tantangan utamanya adalah mentransformasi hasil riset dari skala laboratorium menjadi produksi komersial. Proses ini meliputi standardisasi, kesiapan bahan baku, peningkatan kapasitas produksi, jaminan mutu, hingga kepastian pasar.
Dorong Riset Masuk ke Industri
Pemerintah actively mendorong keterhubungan ini melalui program Berbasis Sains dan Teknologi atau BESTARI SAINTEK yang dikembangkan Kemdiktisaintek. Program ini dirancang agar penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga dapat bertransformasi menjadi inovasi yang diaplikasikan oleh masyarakat maupun industri.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, menyatakan bahwa produk berbasis tempe memiliki potensi besar untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor. Tantangan selanjutnya adalah mempertemukan hasil riset dengan pelaku industri yang memiliki kapasitas produksi skala besar. “Saya membayangkan riset sudah ada, bahan sudah ada, inovasi produknya nanti bisa kita buat. Kita tinggal mencari offtaker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” katanya.
Keterlibatan industri sangat vital untuk menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan produksi dan pasar. Di sisi lain, perguruan tinggi terus berperan dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi, sementara pemerintah menyediakan kebijakan serta ekosistem pendukung. Dalam pengembangan Ragi Nusantara, FKS Group berpartisipasi sebagai mitra industri melalui program BESTARI SAINTEK.
Country Head Indonesia FKS Group, Yanuar Samron, mengungkapkan bahwa peran industri lebih difokuskan untuk menjembatani hasil penelitian menuju tahap penerapan. “Kami melihat peran industri bukan untuk mengambil alih riset, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang membantu menjembatani hasil riset menuju penerapan,” ucapnya.
Yanuar menambahkan, kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan industri sangat dibutuhkan agar inovasi yang bersumber dari biodiversitas Indonesia dapat dikembangkan secara luas dan berkontribusi pada ketahanan pangan.
Nilai Tambah Pangan Lokal
Pengembangan Ragi Nusantara menjadi cerminan peluang besar bagi hilirisasi pangan lokal. Indonesia kaya akan komoditas, mikroorganisme, dan pengetahuan tradisional yang dapat dipadukan dengan teknologi modern untuk menciptakan produk bernilai tambah.
Keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jumlah penelitian atau publikasi ilmiah, tetapi juga dampaknya terhadap adopsi teknologi, penciptaan produk baru, peningkatan produktivitas pelaku usaha, dan penciptaan nilai ekonomi. Kesenjangan antara laboratorium dan pasar selama ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan inovasi. Produk hasil riset harus mampu memenuhi kebutuhan industri sekaligus memiliki keekonomian yang memungkinkan produksi berkelanjutan.
Oleh karena itu, kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi. Riset Ragi Nusantara adalah contoh konkret bagaimana biodiversitas dapat dikembangkan menjadi inovasi pangan melalui penghubungan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kebutuhan industri. Jika model serupa dapat diperluas ke komoditas pangan lainnya, hilirisasi riset berpotensi memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru dari kekayaan hayati Indonesia.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.