— Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meluncurkan program strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mengatasi kekurangan beasiswa bagi mahasiswa domestik, tetapi juga membuka kesempatan bagi 200 mahasiswa asal Palestina untuk menempuh pendidikan di Indonesia.

Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kemdiktisaintek dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk peluncuran Beasiswa Cendekia Palestina dan Beasiswa Cendekia Dalam Negeri tahun 2026. Baznas akan berperan dalam mengelola dana umat (muzaki) untuk mendukung pemerataan pendidikan.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyatakan bahwa meskipun pemerintah telah mengalokasikan dana besar, sekitar Rp 15 triliun untuk 1,1 juta penerima beasiswa, masih terdapat kebutuhan yang belum terpenuhi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan lembaga lain seperti Baznas sangat penting. “Dana-dana dari para muzaki ini salah satunya akan dimanfaatkan secara maksimal untuk pemberian beasiswa,” ujar Brian.

Program ini juga akan mengintegrasikan skema pemberdayaan masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang digagas oleh organisasi kemahasiswaan.

Strategi Ganda untuk Kemanusiaan dan Internasionalisasi

Program beasiswa ini dirancang untuk mengawinkan misi kemanusiaan dengan ambisi internasionalisasi perguruan tinggi nasional. Brian menekankan pentingnya investasi pada pendidikan yang inklusif dan berwawasan global.

“Di samping kita tentu membantu saudara-saudara kita di Palestina, kampus-kampus kita akan mendapatkan pemberdayaan yang sangat baik. Beasiswa ini akhirnya kita gunakan untuk mendatangkan masyarakat Palestina untuk belajar di kampus-kampus kita demi membangun atmosfer internasional di Indonesia,” jelas Brian.

Baznas Siapkan Rp 22 Miliar untuk Mahasiswa Palestina

Menindaklanjuti inisiatif tersebut, Baznas melalui Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menyiapkan dana sebesar Rp 22 miliar. Dana ini dialokasikan khusus untuk membiayai studi magister (S2) bagi 200 mahasiswa Palestina di 33 kampus mitra di Indonesia.

Bantuan tersebut mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, praktikum, buku, hingga pendampingan komprehensif. “Perguruan tinggi kita membutuhkan mahasiswa internasional untuk mengangkat reputasi global. Maka, kami alokasikan insya Allah sebesar Rp 22 miliar untuk 200 mahasiswa asal Palestina kuliah di Indonesia, mengingat bantuan langsung pemulihan ke sana belum bisa optimal karena kondisi yang masih mengkhawatirkan,” ujar Idy.

Ketua Baznas, Sodik Mudjahid, meyakini kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan Palestina. “Kami percaya pendidikan adalah jalan menuju perdamaian. Melalui beasiswa ini, yang kami harapkan bukan sekadar lulusan, tetapi lahirnya generasi berilmu dan berkarakter kuat yang nantinya dapat ikut membangun kembali masa depan bangsanya,” pungkas Sodik.

Pemerintah Indonesia terus berupaya mengatasi tantangan dalam penyediaan akses pendidikan tinggi yang merata, meskipun anggaran negara telah dialokasikan secara signifikan. Tingginya minat generasi muda untuk melanjutkan studi menuntut adanya kolaborasi lintas sektor, termasuk pemanfaatan dana sosial keagamaan seperti zakat.

Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan di Palestina telah melumpuhkan berbagai sektor, termasuk sistem pendidikan tinggi. Krisis ini mendorong komitmen Indonesia untuk memberikan dukungan berkelanjutan, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga melalui investasi jangka panjang pada sumber daya manusia.

Sinergi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Baznas hadir sebagai solusi ganda. Beasiswa Cendekia Dalam Negeri memperkuat pemerataan akses pendidikan tinggi di Indonesia, sementara Beasiswa Cendekia Palestina menjadi wujud diplomasi kemanusiaan sekaligus upaya meningkatkan daya saing dan atmosfer internasional di perguruan tinggi nasional.