Jurnal Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan adanya pelemahan optimisme dalam industri perbankan nasional pada triwulan III-2026 dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun demikian, tingkat optimisme secara keseluruhan masih berada di zona positif.
Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian yang membayangi perekonomian global maupun domestik. Indikasi pelemahan ini terlihat dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) triwulan III-2026 yang tercatat sebesar 56, turun dari angka 59 pada triwulan II-2026. Walaupun mengalami pelemahan, capaian ini masih ditopang oleh ekspektasi kinerja perbankan yang kuat serta persepsi risiko yang dinilai tetap terkendali.
Pelemahan optimisme perbankan ini juga konsisten jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu, di mana IBP triwulan IV-2026 berada di angka 66. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) menunjukkan industri perbankan masih memiliki optimisme terhadap prospek kinerja dan keyakinan dalam mengelola risiko.
“Optimisme tersebut tercermin dari proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan kemampuan bank dalam menjaga risiko tetap terkendali,” ujar Dian dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026). SBPO merupakan survei yang dilaksanakan OJK secara triwulanan untuk memotret arah perekonomian, persepsi industri terhadap risiko perbankan, serta tendensi bisnis perbankan di masa mendatang.
SBPO menghasilkan IBP, sebuah indeks komposit yang mencerminkan persepsi industri dengan rentang nilai 1 hingga 100. Nilai di atas 50 menandakan persepsi optimis, nilai 50 berarti persepsi stabil, sedangkan nilai di bawah 50 mengindikasikan persepsi pesimis. IBP sendiri tersusun dari tiga subindeks: Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM), Indeks Persepsi Risiko (IPR), dan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK).
Pada survei triwulan III-2026, OJK melibatkan 99 bank responden yang dihimpun pada Juli 2026. Jumlah tersebut mewakili 97,91% dari total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026. Penurunan IBP triwulan III-2026 terutama dipicu oleh melemahnya IKM, yang tercatat berada di zona pesimis dengan nilai 28, lebih rendah dari posisi sebelumnya sebesar 37. Sementara itu, IPR dan IEK justru mencatat sedikit peningkatan.
Perbankan memandang isu pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah secara positif, namun menunjukkan sikap yang lebih hati-hati terhadap BI-Rate dan inflasi. “Ekspektasi industri perbankan terhadap kondisi makroekonomi pada triwulan III-2026 secara umum terkait dinamika perekonomian dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama berkaitan dengan ekspektasi peningkatan inflasi dan suku bunga acuan global,” terang Dian.
Sementara itu, IPR berada di level optimis sebesar 57, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi sebelumnya di angka 56. Perbankan menurunkan ekspektasi terhadap perkembangan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), bergeser dari pesimis ke netral terkait rasio kredit bermasalah (NPL), serta memandang lebih positif terhadap prospek Posisi Devisa Netto (PDN) dan arus kas (cashflow).
Adapun IEK tercatat meningkat tipis dari 82 menjadi 83. Prospek yang lebih positif disematkan untuk indikator kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) dan permodalan. Ekspektasi terhadap kredit dan keuntungan sedikit diturunkan, meskipun tetap berada di level optimis. “Pertumbuhan DPK yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit turut mendorong peningkatan net cashflow perbankan,” imbuh Dian.
Dian menambahkan, sektor industri pengolahan yang mendominasi penyaluran kredit perbankan mencatat pertumbuhan sebesar 16,85% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Responden survei memproyeksikan sektor ini akan tetap menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi penghimpunan dana, responden memperkirakan DPK tetap tumbuh pada triwulan III-2026, seiring upaya perbankan mengoptimalkan sumber dana untuk menopang ekspansi kredit sekaligus menjaga likuiditas.
Seluruh bank responden menunjukkan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang (prolonged) dan berisiko mengalami pemburukan lebih dalam. Dinamika ini dinilai memiliki implikasi signifikan terhadap prospek dan kinerja perekonomian nasional ke depan. Di tengah tekanan tersebut, sejumlah indikator utama sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, tetap menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, serta likuiditas yang memadai di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik. Keberlanjutan kinerja perbankan dinilai tetap memerlukan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif agar fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Ke depan, momentum pertumbuhan ekonomi nasional perlu terus dijaga melalui berbagai upaya yang mendukung stabilitas, produktivitas, dan peningkatan daya saing. Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, perbankan diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan global,” pungkas Dian.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.