Jurnal Indonesia — JAKARTA – Indonesia tengah bergulat dengan paradoks literasi yang signifikan. Meskipun data dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menunjukkan tingkat melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas telah mencapai 97%, kemampuan membaca kritis dan pemahaman mendalam di kalangan pelajar nasional masih memprihatinkan.
Santosh Khatri, Chief of Education UNESCO Regional Office Jakarta, menyoroti bahwa angka melek huruf dasar yang tinggi belum sepenuhnya mencerminkan kualitas literasi suatu bangsa. Kesenjangan ini diperjelas oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Dalam survei tersebut, rata-rata skor membaca murid Indonesia hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah standar rata-rata negara anggota OECD yang berada di angka 476 poin.
“Ini mengingatkan kita terkait kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pemahaman mendalam di kalangan pelajar, dimulai dari kelas-kelas awal,” ujar Santosh dalam sebuah webinar peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menanggapi kondisi ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa makna literasi telah bergeser secara drastis. Di era disrupsi teknologi digital dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), literasi kini tidak hanya terbatas pada kemampuan merangkai huruf, tetapi mencakup keterampilan menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi informasi secara kritis.
Pemerintah juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pegiat literasi di tingkat akar rumput, termasuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), yang terus berupaya mengedukasi masyarakat di berbagai daerah.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menekankan bahwa peringatan 60 tahun HAI ini harus menjadi momentum penting untuk memastikan literasi tetap menjadi bekal utama manusia dalam menghadapi tantangan masa depan.
Rendahnya tingkat literasi mendalam di Indonesia menjadi perhatian serius dalam upaya perbaikan sistem pendidikan nasional. Hasil evaluasi PISA yang secara konsisten menempatkan Indonesia di papan bawah mengindikasikan adanya jurang pemisah antara kemampuan membaca mekanis dan pemahaman kontekstual. Permasalahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses terhadap buku-buku berkualitas, metode pengajaran yang masih berfokus pada hafalan, hingga tantangan arus informasi digital yang belum diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.