Jurnal Indonesia — Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, masih berlangsung pada hari kelima. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 15 hektare dari total luas TPA sekitar 33 hektare.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono meninjau lokasi pada Sabtu siang bersama sejumlah pejabat, termasuk Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH Rasio Ridho Sani, Deputi Gakkum KLH Rizal Irawan, Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid, dan Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan.
Kondisi Lapangan dan Titik Api
Di lokasi, gunungan sampah masih mengeluarkan asap putih pekat. Meski kobaran api di permukaan mulai berkurang, tim pemadam masih menemukan banyak titik panas di kedalaman tumpukan sampah.
“Dari luas 33 hektar, sampai tadi malam luas yang terbakar dari awal 3 hektar sampai tadi malam diperkirakan estimasi sudah menjadi 15 hektar Pak, per 3 Juli tadi malam Pak, ini kurang lebih jam 20.00 atau 21.00 WIB. Sekarang sudah menyebar menjadi 15 hektar,” ujar Rizal Irawan di lokasi.
Berdasarkan analisis video drone thermal, tim menemukan ratusan titik panas yang tersebar pada berbagai tumpukan sampah. Kondisi ini memperumit penanganan, apalagi TPA berdekatan dengan pemukiman warga.
“Ketika menggunakan drone RGB, sebaran api multiple tempat Pak. Jadi banyak sekali puluhan atau bahkan ratusan titik api. Kepulan asap tebal dan masif. Kemudian kedekatan dengan pemukiman, cahaya pemukiman jalan tampak dekat dengan tepi kebakaran,” kata Rizal.
Tantangan Teknis Pemadaman
Rizal menyebut topografi gunungan sampah yang mencapai 20–30 meter menjadi tantangan utama karena api dapat terpendam di kedalaman. Kondisi tersebut memerlukan penanganan khusus, termasuk keterlibatan tim Manggala Agni.
“Kenapa kita harus meminta bantuan Manggala Agni? Karena dengan ketinggian kita anggap 20-30 meter, sepertinya api di permukaan sudah tinggal asap saja Pak. Tapi karena ini kedalamannya sampai 30 meter, kita enggak tahu api itu menyala di ketinggian berapa,” ujarnya.
Rizal juga mengingatkan risiko tambahan akibat kandungan gas metana dalam timbunan sampah, yang menurutnya membuat kebakaran ini lebih berbahaya dibandingkan kebakaran gambut.
“Ini kita anggap lebih rawan dibandingkan gambut. Gambut ketinggian hanya 4-5 meter paling dalam. Ini ketinggian atau kedalaman bisa 20-30 meter. Itu handicap kita yang pertama,” jelasnya. “Yang kedua, gambut tidak ada metana. Di sini ada metana Pak, sehingga tentu saja kerawanan sangat tinggi.”
Upaya Pemadaman dan Status Darurat
Petugas gabungan mengarahkan selang air bertekanan tinggi ke titik-titik asap, sementara tim Manggala Agni melakukan penetrasi ke area yang sulit dijangkau. BNPB juga dikerahkan untuk melakukan penyiraman dari udara menggunakan helikopter water bombing.
Pemerintah Kabupaten Tangerang telah mengeluarkan surat keputusan berstatus tanggap darurat untuk mempercepat penanganan kebakaran. Petugas gabungan masih berjaga dan melanjutkan upaya pemadaman di lokasi.
Ikuti Jurnal Indonesia
