Jurnal Indonesia — Jakarta – Berbeda dari kebanyakan anak muda yang merantau ke kota besar, Alexsander Leo Letsoin dan Dwi Sanjaya Rahayu Ohee memilih jalan pengabdian. Keduanya bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dengan misi kembali ke pelosok Papua, membawa ilmu dan harapan untuk masyarakat di kawasan transmigrasi.
Bagi Alexsander, pemuda asal Merauke, Papua Selatan, dan Dwi, gadis kelahiran Jayapura, Papua, tanah kelahiran mereka lebih dari sekadar tempat tinggal. Papua adalah rumah yang ingin mereka bangun dan kembangkan bersama generasi muda lainnya.
Alexsander: Penguatan UMKM untuk Kemandirian Masyarakat
Alexsander, lulusan Universitas Musamus Merauke, akan bertugas di Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Ia melihat partisipasinya dalam TEP 2026 sebagai kesempatan emas untuk berkontribusi nyata dalam perubahan. “Saya tidak ingin hanya menjadi penonton perubahan. Saya ingin menjadi bagian dari tim yang bergerak, membantu masyarakat, dan menciptakan cerita keren untuk Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).
Memahami tantangan masyarakat Papua, mulai dari keterbatasan akses hingga minimnya pendampingan pelaku usaha, Alexsander berfokus pada penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia percaya, usaha kecil yang berkembang akan menjadi kunci kesejahteraan keluarga di kawasan transmigrasi. “Saya ingin membantu usaha masyarakat menjadi lebih berkembang. Dari situ, masyarakat bisa lebih mandiri,” jelas Alexsander.
Persiapan keberangkatannya terbilang sederhana, mengingat ia telah terbiasa dengan kondisi alam Papua. Namun, satu hal yang tak boleh ketinggalan adalah obat antimalaria. “Yang paling penting saya siapkan adalah obat malaria karena risikonya cukup tinggi di beberapa wilayah Papua,” tutur pemuda berusia 23 tahun itu.
Dwi Sanjaya: Inovasi di Tengah Keterbatasan
Semangat pengabdian yang sama ditunjukkan oleh Dwi Sanjaya Rahayu Ohee, lulusan Politeknik Negeri Jember. Ia akan ditempatkan di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Bagi Dwi, TEP 2026 adalah kesempatan berharga untuk kembali mengabdi pada tanah kelahirannya. “Saya ingin mendedikasikan diri untuk pemberdayaan ekonomi di kawasan transmigrasi dan membawa perubahan positif di setiap wilayah yang kami kunjungi,” tuturnya.
Dwi meyakini bahwa keterbatasan fasilitas justru menjadi lahan subur untuk berinovasi. “Keterbatasan bisa menjadi ruang untuk berinovasi. Yang penting adalah membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan memahami budaya setempat,” ungkap gadis 26 tahun tersebut.
Ia menambahkan, TEP memiliki peran krusial sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Melalui riset dan pemetaan potensi, program ini diharapkan menghasilkan strategi pengembangan komoditas unggulan yang dapat menjadi dasar kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi.
Dwi menilai program ini bukti nyata bahwa pembangunan transmigrasi kini tidak hanya memindahkan penduduk, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan generasi muda sebagai motor perubahan. “Program ini memberi ruang bagi anak muda untuk turun langsung, menganalisis potensi wilayah, dan menjadi bagian dari solusi pembangunan,” ujarnya.
Seperti Alexsander, Dwi tidak memerlukan persiapan khusus selain menjaga kesehatan. Ia tetap mengonsumsi obat antimalaria sebelum berangkat ke Senggi. “Selebihnya, tim kami sudah siap belajar dan bekerja bersama masyarakat,” katanya.
Harapan Baru untuk Papua
Kisah Alexsander dan Dwi mencerminkan esensi Tim Ekspedisi Patriot 2026. Program ini tak hanya mengirimkan sarjana ke kawasan transmigrasi, tetapi juga menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Meskipun tantangan pembangunan di Papua masih besar, kehadiran generasi muda seperti Alexsander dan Dwi menumbuhkan harapan. Mereka memilih untuk kembali, bukan mencari kenyamanan, melainkan menghadirkan perubahan.
Keberangkatan mereka menegaskan bahwa pembangunan Indonesia dapat dimulai dari kampung-kampung di ujung timur negeri. Perubahan lahir ketika putra-putri daerah memutuskan pulang, bekerja bersama masyarakat, dan menyalakan harapan bagi masa depan tanah kelahiran mereka. Semangat ini dibawa oleh TEP 2026, membangun kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Ikuti Jurnal Indonesia
