Jurnal Indonesia — Di tengah arus globalisasi dan perkembangan kota yang pesat, generasi muda Jakarta mengangkat budaya Betawi ke ruang digital. Produk fesyen, aksesori, dan kuliner khas kini tampil sebagai ekspresi identitas sekaligus komoditas gaya hidup yang mudah dijangkau lewat e-commerce.
Momen perayaan HUT Jakarta ke-499 menjadi titik refleksi: warisan tradisi tak hanya hadir di festival, melainkan juga melekat dalam keseharian lewat platform penjualan daring. Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal memperkenalkan kekayaan budaya Betawi ke pasar yang lebih luas.
Berawal Dari Sanggar, Bertransformasi Jadi Rumah Produksi
Betawi Online Gallery didirikan oleh Mohamad Ardiansyah yang tergerak saat aktif di Sanggar Seni Silat Betawi Setu Babakan. Berbekal minat terhadap budaya lokal dan latar belakang teknologi informasi, Ardi memulai usahanya pada 2014 dari meja kecil di bantaran Setu Babakan.
Seiring waktu, platform informasi tersebut berkembang menjadi pusat oleh-oleh Betawi dengan empat kios, rumah produksi sendiri, dan puluhan karyawan. Produk yang dihasilkan tidak sekadar suvenir, tetapi juga reinterpretasi budaya—misalnya bantal dan boneka ondel-ondel yang dibuat lebih ramah dan edukatif untuk anak-anak.
Menurut Ardi, motif seperti Gigi Balang yang melambangkan keberanian serta motif tumpal dan Monas memberi makna filosofis pada setiap produk. Lewat pendekatan itu, Betawi Online Gallery ingin menjadi wadah bagi warga yang ingin merayakan identitas Jakarta dengan kebanggaan.
Foto: Istimewa
Teknologi sebagai Pengungkit Pertumbuhan
Transformasi bisnis juga ditopang oleh adopsi teknologi dan strategi digital. Ardi mengatakan Betawi Online Gallery bergabung bersama platform e-commerce sejak 2016, mengambil setiap peluang yang datang untuk memperluas jangkauan.
“Saya bergabung sejak awal Shopee hadir pada tahun 2016 lalu. Walaupun saat itu Shopee masih terbilang baru, tapi prinsip saya apapun peluang yang datang, kecil atau besar, kita ambil semua,” ujar Ardi dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Ardi menyebut platform tersebut kini menyumbang sekitar 60% penjualan online Betawi Online Gallery. Adopsi fitur interaktif seperti iklan, video produk, dan program afiliasi membantu memperluas jangkauan brand ke seluruh Indonesia.
Efeknya terlihat pada momen-momen khusus. Pada Hari Kartini tahun ini, misalnya, penjualan di platform tersebut meningkat hingga lima kali lipat dibanding hari biasa. Peningkatan serupa tercatat pada peringatan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta sebelumnya.
Pemberdayaan Komunitas dan Visi Ke Depan
Selain tujuan komersial, Ardi menekankan misi sosial usaha ini. Rumah produksi memberdayakan sekitar 30 orang karyawan yang terdiri dari perajin jahit dan seniman lokal dari berbagai daerah, sehingga memberi dampak ekonomi bagi komunitas sekitar.
“Saya sangat bangga melihat generasi muda saat ini sangat menghargai kreativitas tanpa kehilangan nilai asli tradisi. Inovasi visual yang kami lakukan pada produk busana, suvenir 3D, hingga kuliner tradisional dirancang untuk memberikan rasa bangga saat mengenakan atau mengonsumsinya,” kata Ardi.
Ardi menambahkan bahwa memanfaatkan teknologi sambil menjaga akar budaya menjadi strategi untuk membawa identitas Betawi lebih jauh, bahkan melintasi batas negara.
“Menampilkan karakter Betawi yang ramah dan adaptif adalah cara kami menjaga agar esensi dan jiwa Jakarta tetap berdenyut di hati generasi muda,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
