— Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (Peruji) kembali menggelar Indonesia Underwriting Summit (IUS) 2026 pada 9–10 September 2026 di Trans Luxury Hotel, Surabaya. Acara ini mengusung tema ‘Integrated Underwriting Journey – Data, Discipline, Decision’ untuk memperkuat fungsi underwriting di industri asuransi yang semakin kompleks.

Ketua Peruji Dessy Kusumayati menegaskan bahwa underwriting perlu dipandang sebagai sebuah perjalanan terintegrasi. Ia menekankan bahwa underwriter masa kini tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga harus menggabungkan kualitas data, disiplin proses, dan kemampuan mengambil keputusan strategis. Underwriter kini dituntut menjadi ‘strategic business partner’ yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas portofolio, pengalaman nasabah, tata kelola risiko, dan keberlanjutan profitabilitas perusahaan.

Melalui IUS 2026, Peruji bertujuan mendorong pertukaran pengalaman, pembelajaran praktis, dan kolaborasi agar para underwriter lebih siap menghadapi perubahan risiko dan kebutuhan industri. Dessy menambahkan, perkembangan teknologi harus menjadi pendukung profesi, bukan ancaman. Teknologi dan data dapat mempercepat proses dan mengurangi pekerjaan repetitif, namun ‘judgement’, ‘accountability’, ‘ethics’, dan responsibility tetap berada pada manusia.

Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Iwan Pasila dalam ‘keynote address’ menyoroti pentingnya fungsi underwriting dalam menjaga skala industri. Data OJK per Juli 2026 menunjukkan total aset sektor PPDP mencapai Rp2.964,56 triliun. Iwan menekankan bahwa kualitas seleksi risiko sejak awal menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan industri memenuhi janji perlindungan kepada nasabah. Ia mendorong underwriter untuk memahami kesesuaian ‘target market’ dan produk, serta memanfaatkan data, teknologi digital, dan ‘artificial intelligence’ (AI).

Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo menilai penguatan kompetensi dan kolaborasi lintas fungsi sangat penting bagi industri asuransi jiwa, dengan ‘human judgment’ tetap sebagai inti profesi. AAJI berkomitmen mendukung pengembangan kompetensi, penyusunan standar industri, penyiapan talenta, serta dialog dengan regulator untuk memperkuat profesi underwriter jiwa di Indonesia.

Penguatan fungsi underwriting semakin relevan di tengah meningkatnya biaya dan kompleksitas layanan kesehatan. Mercer memproyeksikan ‘medical trend rate’ Indonesia mencapai 17,8% pada 2026, jauh di atas proyeksi inflasi umum. Penguatan ini juga sejalan dengan POJK Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan yang mendorong penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta praktik asuransi kesehatan yang rasional dan berkelanjutan.

Ketua Panitia IUS 2026 Hendrikus Dharmawan menjelaskan bahwa acara ini mempertemukan sekitar 250 peserta dari berbagai fungsi terkait pengelolaan risiko asuransi, termasuk underwriting, ‘risk management’, aktuaria, ‘claims’, ‘data analytics’, reasuransi, broker, ‘healthcare’, regulator, dan akademisi. Forum ini membahas isu strategis seperti ‘clinical evidence’, ‘underwriting framework’, pemanfaatan ‘data analytics’, ‘claims and healthcare’, ‘digital health ecosystem’, ‘fraud detection’, ‘biometrics’, hingga transformasi pengelolaan klaim.

Selain itu, Peruji dan PT Novartis Indonesia menandatangani ‘memorandum of understanding’ (MoU) untuk memperkuat pemahaman berbasis bukti klinis dalam pengambilan keputusan asuransi. Presiden Direktur PT Novartis Indonesia Libby Hsu menyatakan komitmen Novartis untuk mendukung penguatan ekosistem kesehatan dan asuransi melalui edukasi dan pertukaran pengetahuan berbasis sains dan bukti klinis. Kemitraan ini diharapkan memperkaya pemahaman profesional asuransi mengenai perkembangan ilmu kedokteran dan risiko kesehatan.

Kolaborasi ini relevan dengan transformasi underwriting yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin. Keputusan terkait risiko kesehatan tidak hanya membutuhkan data historis, tetapi juga pemahaman terhadap perkembangan ilmu kedokteran, bukti klinis, pola penyakit, dan implikasinya terhadap pengelolaan risiko.

Melalui IUS 2026, Peruji mendorong underwriting untuk berkembang sebagai fungsi strategis yang menghubungkan kualitas data, disiplin proses, bukti klinis, dan ketepatan pengambilan keputusan. Forum ini diharapkan dapat memperkuat profesionalisme serta kualitas pengelolaan risiko di industri asuransi Indonesia.