— JAKARTA – Kebijakan pemangkasan potongan komisi oleh aplikator layanan ojek daring (ojol), Gojek dan Grab, dari 20% menjadi 8% tidak secara otomatis menjamin peningkatan pendapatan bagi para mitra pengemudi. Sejumlah faktor lain turut berperan signifikan dalam menentukan penghasilan harian mereka.

Menurut Dedy Tarmizi, seorang mitra Grab asal Jakarta, besaran komisi bukanlah satu-satunya penentu pendapatan. Ia menekankan pentingnya mencari pesanan di area dengan mobilitas tinggi dan antrean perjalanan yang padat. “Hal yang penting adalah mencari order di kawasan dengan mobilitas dan antrean perjalanan tinggi,” ujarnya.

Dedy mencontohkan pengalamannya di kawasan Sudirman, Jakarta. Jika terdapat antrean panjang, pendapatannya cenderung meningkat. Pengaturan jam aktif dan lokasi strategis menjadi kunci.

Senada dengan itu, Inos Delsianos Yus memiliki strategi tersendiri saat permintaan di sekitar sekolah menurun. Ia memilih mencari pesanan di area stasiun kereta atau Mass Rapid Transit (MRT). “Dalam menyiasati orderan yang sepi, biasanya saya mencari tempat yang ramai, seperti stasiun atau MRT. Jangan berhenti bersemangat mencari rezeki,” tuturnya.

Arief, mitra lain dari Jakarta, mengatur strategi lokasinya berdasarkan jam-jam krusial seperti keberangkatan kerja, makan siang, dan jam pulang kantor. Pendekatannya tidak hanya bergantung pada satu kondisi pasar. “Kita harus mengatur tempat dan waktu. Alhamdulillah, masih banyak yang stabil pendapatannya dan ada pula yang meningkat,” ungkapnya.

Pengalaman para mitra ini menunjukkan bahwa dampak perubahan skema komisi tidak bisa dinilai hanya dari satu hari pengamatan atau satu indikator saja. Analisis yang komprehensif perlu mempertimbangkan jumlah perjalanan, durasi waktu aktif, area operasional, jenis layanan yang diambil, serta fluktuasi permintaan pada periode waktu yang sama.