Jurnal Indonesia — Jakarta – Kemunculan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru di dunia kerja, termasuk profesi prompt engineer yang bisa ditekuni tanpa harus memiliki gelar sarjana. Namun, Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, menekankan bahwa kemampuan kognitif dan kepekaan manusia tetap menjadi kunci utama.
Dalam acara ‘Google & YouTube untuk Ekonomi Kreatif’ di Jakarta pada Kamis (23/7/2026), Irene menyoroti dua sisi paradoks AI. Di satu sisi, AI berpotensi menggantikan beberapa pekerjaan, namun di sisi lain, ia justru menciptakan peluang kerja baru dengan nomenklatur yang belum pernah ada sebelumnya.
“Saya senang melihat presentasi bahwa AI tidak hanya akan menggantikan pekerjaan, tetapi juga akan menciptakan pekerjaan baru dengan gelar-gelar baru yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar Irene.
Dalam lima tahun terakhir, kemajuan AI telah melahirkan berbagai profesi baru yang tidak selalu mensyaratkan gelar sarjana, salah satunya adalah prompt engineer. Profesi ini berfokus pada perancangan instruksi yang spesifik dan terstruktur untuk sistem AI generatif. Tujuannya agar AI dapat memahami konteks dengan tepat dan menghasilkan keluaran yang akurat, relevan, serta optimal.
Irene menyebutkan, banyak individu di negara seperti India yang melihat ini sebagai kesempatan emas. “Mereka berkata, ‘saya tidak perlu kuliah, saya bisa langsung menjadi insinyur yang handal, dan saya bisa bekerja di mana saja di dunia. Sempurna!'” tuturnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam bidang rekayasa, termasuk prompt engineering, pada dasarnya tetap membutuhkan kejelasan dari sisi manusia. “Jika manusia tidak tahu apa yang dia inginkan, maka tidak ada orang lain yang dapat memberikan apa yang dibutuhkan. Manusia harus mampu mengkomunikasikan dan menyampaikan dengan baik apa yang menjadi ide atau gagasan mereka,” jelas Irene.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kejelasan dalam keinginan dan kemampuan komunikasi. “Kita akan hidup dengan semangat anak-anak, kita semua harus sangat jelas tentang apa yang kita inginkan sebagai manusia. Jika tidak, ini tidak sesuai dengan teori dasar tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, dengan meraih pekerjaan itu,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
