— JAKARTA – Prospek PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan tren yang semakin positif. Permintaan global terhadap komoditas timah tetap tinggi, sementara produsen lain minim ekspansi, menciptakan keuntungan bagi perseroan sebagai eksportir timah terbesar untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar.

Konsumsi logam timah di pasar global diproyeksikan terus bertumbuh. Hingga Juli 2026, konsumsi tercatat mencapai 179.000 ton, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingginya konsumsi ini turut mendongkrak harga komoditas mineral tersebut.

PT Timah memperkirakan harga timah akan berada di kisaran US$47.000-55.000 per ton. Namun, harga timah untuk kontrak di bulan September 2026 di London Metal Exchange (LME) telah menembus estimasi tersebut, ditutup di level US$55.218 per ton pada Kamis (10/9/2026), naik 0,65%. Kenaikan ini membuka peluang harga timah untuk tumbuh lebih tinggi, membuat PT Timah optimistis menutup tahun buku 2026 dengan hasil maksimal. Kondisi ini diperkuat oleh fakta bahwa produsen timah global belum menunjukkan geliat ekspansi produksi.

Situasi ini menciptakan kesenjangan (gap) sebesar 3% antara konsumsi dan produksi timah. Meskipun menjadi tantangan untuk mengejar ketertinggalan, kesenjangan ini juga menandakan permintaan pasar timah yang terus bertumbuh.

Revisi RKAP Seiring Kinerja Cemerlang

PT Timah merevisi rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2026. Hingga semester I-2026, anggota BUMN Industri Pertambangan atau MIND ID ini berhasil membukukan pendapatan melesat 147% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp10,4 triliun, atau 67% dari total RKAP 2026 sebesar Rp15,35 triliun. EBITDA meroket 363% secara yoy menjadi Rp3,9 triliun.

Seiring penguatan pendapatan dan EBITDA, laba bersih PT Timah melonjak signifikan sebesar 805% secara yoy menjadi Rp2,7 triliun pada semester I-2026. Angka ini jauh melampaui target laba bersih RKAP 2026 sebesar Rp1,6 triliun.

“Jadi dapat kami sampaikan, saat ini PT Timah sedang menyusun RKAP perubahan dikarenakan memang dari variabel dan pencapaian kinerja sudah jauh lebih tinggi dibandingkan yang disetujui pemegang saham sebelumnya,” ucap Direktur Keuangan PT Timah Tbk Fina Eliani dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Penyusunan RKAP perubahan bertujuan agar PT Timah dapat menetapkan target finansial yang lebih tinggi. Namun, Fina belum dapat menyampaikan besaran target tersebut kepada publik karena masih dalam proses persetujuan pemegang saham. Ia juga menambahkan bahwa target keuangan tahun buku 2027 belum dapat diumumkan, namun pemegang saham mengharuskan laba bersih tahun 2027 lebih tinggi dari tahun 2026.

Kinerja Operasi dan Strategi Pengembangan

Dari sisi operasi, PT Timah menargetkan produksi bijih timah sebesar 30.000 ton Sn sesuai RKAP 2026. Realisasi pada semester I-2026 mencapai 12.232 ton Sn, naik 75% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah tumbuh 58% secara yoy menjadi 10.865 metrik ton, termasuk penjualan logam timah yang meningkat 85% secara yoy menjadi 10.984 metrik ton.

Hingga semester I-2026, PT Timah memiliki sumber daya mineral sebanyak 798 ribu ton Sn dan cadangan mineral timah sebanyak 312 ribu ton Sn. Perusahaan mengelola 127 wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau dengan total luas 473.558 hektare, didominasi area darat seluas 288 ribu ha dan laut 184 ribu ha.

Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah Tbk Harry Budi Sidharta menjelaskan, perusahaan menyiapkan tujuh strategi untuk meningkatkan operasi dan produksi. Strategi tersebut meliputi peningkatan sumber daya dan cadangan timah, fokus pada pengolahan tambang primer seperti Batu Besi di Belitung dan Paku di Bangka, serta perbaikan tata kelola kemitraan penambangan.

Perseroan juga mengoptimalkan produksi melalui penambahan alat kerja, peningkatan produktivitas, dan percepatan pembukaan lokasi baru. “Jadi, di 2026 dan 2027 ada beberapa lokasi tambang baru yang akan kami usulkan untuk menjadi tambahan PT Timah dari IUP yang ada sekarang,” ujar Harry.

Selain itu, PT Timah mendiversifikasi bisnis mineral strategis dengan mengembangkan logam tanah jarang (LTJ) bersama mitra strategis dan memperkuat kinerja dua anak usaha, PT Indometal London dan PT Timah Industri. Alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp446 miliar, 90% untuk operasi produksi dan eksplorasi, sisanya untuk investasi non-rutin.

Ekspansi Pasar Global

Direktur Produksi dan Komersial PT Timah Tbk Ilhamsyah Mahendra menambahkan, perseroan melakukan ekspansi pasar global dengan mengekspor ke Filipina dan Inggris. Volume ekspor di Vietnam dan India mengalami pertumbuhan masing-masing 5% dan 12%, seiring dengan pembangunan pabrik ponsel dan semikonduktor di India. “Dan, Timur Tengah tentu menjadi target pasar kita di tahun 2027 dan beberapa negara Eropa lainnya,” ujar Ilhamsyah.

Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘add’ untuk saham TINS dengan target harga Rp5.500, didukung oleh harga timah yang kuat. Harga rata-rata timah sejak awal tahun (YTD) tercatat US$51.000 per ton. Analisis Phintraco menunjukkan laba bersih (NPAT) FY2026F berpotensi mencapai Rp5,9 triliun, atau 16% lebih tinggi dari proyeksi saat ini, dengan P/E FY2026F sebesar 6,2 kali pada harga saham TINS saat ini, yang dinilai menarik.