Jurnal Indonesia — JAKARTA – Saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menguat 0,28% ke level Rp 1.760 pada penutupan perdagangan Selasa, 8 September 2026. Dalam sebulan terakhir, saham emiten berkode SMGR ini telah melonjak 8,64%, namun rasio price to book value (PBV) perusahaan masih berada di angka 0,27 kali.
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG membukukan pendapatan atau omzet sebesar Rp 17,65 triliun sepanjang semester I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 15,61 triliun.
SIG melihat program pembangunan 3 juta rumah dan berbagai proyek pemerintah lainnya sebagai katalis penting yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan permintaan semen hingga akhir 2026 dan tahun mendatang. Prospek positif ini diharapkan dapat membantu industri semen mengatasi masalah kelebihan kapasitas atau oversupply yang selama ini menekan utilisasi pabrik dan profitabilitas produsen.
Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, menyatakan optimisme terhadap prospek industri semen pada 2026 dan 2027. “Untuk tahun 2026 dan juga tahun depan, kami optimis bahwa industri semen akan memiliki prospek yang positif. Ini karena didukung oleh program-program pemerintah yang menjadi penggerak untuk permintaan semen,” ujar Indrieffouny dalam acara Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Selain program sejuta rumah, Indrieffouny menambahkan bahwa permintaan semen akan ditopang oleh pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, Sekolah Rakyat, serta berbagai proyek infrastruktur nasional dan daerah. Pemerintah juga dijadwalkan memulai pembangunan Giant Sea Wall.
Dari sektor swasta, permintaan semen diperkirakan akan datang dari investasi industri, hilirisasi, pembangunan kawasan komersial, hingga pusat data (data center). Berbagai proyek ini dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri semen nasional.
Optimisme SIG ini muncul di tengah tantangan industri semen nasional yang masih bergulat dengan kelebihan kapasitas. Data SIG menunjukkan kapasitas terpasang industri semen nasional mencapai sekitar 119,1 juta ton per tahun pada 2024, sementara permintaan domestik hanya 64,9 juta ton. Tingkat utilisasi domestik pun berada di kisaran 57,2%.
Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), Lilik Unggul Raharjo, menyebut kapasitas produksi nasional masih sekitar 120 juta ton per tahun. Pada 2025, utilisasi diperkirakan hanya sekitar 54% dan diproyeksikan naik tipis menjadi 56% pada 2026. Kondisi ini menyebabkan persaingan harga dan tekanan terhadap margin menjadi tantangan utama industri.
Oleh karena itu, percepatan pembangunan perumahan menjadi krusial karena dapat menciptakan tambahan permintaan semen, terutama dari segmen kantong yang selama ini menjadi pasar utama. SIG sendiri melaporkan sekitar 70% bisnisnya berasal dari segmen retail.
Potensi Besar dari Program Perumahan
Pemerintah terus menggenjot pelaksanaan Program 3 Juta Rumah. Pada 2026, kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ditingkatkan menjadi 350.000 unit. Hingga pertengahan Juli 2026, realisasi FLPP telah mencapai sekitar 102.900 unit.
Pemerintah juga memperkuat pembiayaan perumahan melalui Kredit Program Perumahan dengan dukungan hingga Rp 130 triliun. Selain itu, Danantara Housing Expo pada akhir Agustus 2026 menghadirkan pasokan sekitar 100.000-120.000 unit hunian dari lebih dari 130 pengembang.
Bagi industri semen, program perumahan ini berpotensi memberikan dampak berlapis. Tidak hanya untuk pembangunan rumah itu sendiri, tetapi juga untuk kebutuhan beton siap pakai, mortar, bata ringan, infrastruktur kawasan, jalan, drainase, dan fasilitas umum pendukung lainnya.
SIG telah mengantisipasi peluang ini dengan mengembangkan produk turunan semen. Salah satunya adalah Bata Interlock Presisi yang diposisikan sebagai solusi konstruksi untuk mendukung percepatan pembangunan hunian layak dan terjangkau dalam program 3 juta rumah.
Indrieffouny menjelaskan bahwa SIG tidak hanya mengandalkan penjualan semen, tetapi juga menawarkan solusi bahan bangunan terintegrasi dengan jaringan produksi dan distribusi yang tersebar luas di seluruh Indonesia.
Katalis permintaan ini mulai terlihat dampaknya pada kinerja SMGR di semester I-2026. SIG mencatat volume penjualan mencapai 18,28 juta ton, meningkat 5,6% dibandingkan 17,31 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh pasar domestik yang mencapai 14,18 juta ton atau tumbuh 9,7% secara tahunan, dengan penjualan semen kantong menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 11,2%.
Dari sisi keuangan, pendapatan SIG di semester I/2026 mencapai Rp 17,65 triliun, naik 13,1% dari tahun sebelumnya. EBITDA meningkat 2,6% menjadi Rp 2,15 triliun, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 228 miliar.
CFO SIG, Andriano Hosny Panangian, menegaskan komitmen perseroan untuk terus menjaga profitabilitas melalui penguatan kanal retail, optimalisasi rantai pasok dan logistik, serta ekspansi pasar business to business. “Yang terpenting utama adalah kita harus terus melakukan perbaikan dalam hal bisnis, dalam hal mendapatkan revenue,” ujarnya.
SIG juga terus memperluas penetrasi ke pasar proyek dan industri dengan mengoptimalkan jaringan anak usahanya. Strategi ini didukung oleh pengembangan produk non-semen seperti ready mix, bata interlock presisi, dan berbagai produk turunan lainnya.
Di tengah tekanan oversupply dan persaingan harga, SIG memperkuat neraca melalui strategi deleveraging. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SIG, Sigit Prasetyo, mengungkapkan bahwa peningkatan pendapatan dan pengendalian biaya telah memperkuat arus kas operasi perseroan.
SIG berhasil memangkas utang berbunga dari Rp 13,4 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp 8,06 triliun pada semester I-2026. Penurunan utang ini menekan beban keuangan bersih perseroan sebesar 34,5% secara tahunan.
“Dari situlah sebetulnya kita mulai bisa memupuk kemampuan untuk terus menurunkan kewajiban utang kita. Dan pada akhirnya tentu ini bisa mengurangi beban bunga yang menjadi beban SIG selama ini,” kata Sigit.
Penurunan utang juga berdampak pada rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang turun dari 0,26 kali menjadi 0,18 kali. SIG sebelumnya telah melunasi sejumlah obligasi, termasuk Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Seri A pada November 2025 dan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Seri B pada Mei 2026.
Pefindo pada Agustus 2026 mempertahankan peringkat SIG pada level AAA dengan prospek stabil. Peringkat ini mencerminkan kuatnya posisi keuangan dan posisi SIG sebagai salah satu pemain utama di industri semen nasional.
Direktur Sales & Marketing SIG, Dicky Saelan, menyatakan bahwa segmen retail tetap menjadi fokus utama karena menyumbang sekitar 70% bisnis perseroan. SIG juga terus memperkuat bisnis semen curah yang memiliki peluang besar dari proyek infrastruktur dan industri.
Selain itu, perseroan mulai merambah pasar ekspor. Dicky menyebut SIG untuk pertama kalinya pada tahun ini berhasil mengekspor semen ke Amerika Serikat.
“Di pasar domestik, SIG memperkuat penetrasi melalui portofolio merek lokal seperti Semen Andalas, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik dan Semen Tonasa. Perseroan juga kembali meluncurkan Semen Kujang untuk memperkuat penetrasi di Jawa Barat,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.