— JAKARTA – PT Mitra Investindo Tbk (MITI) memperkuat lini bisnis pelayaran dan logistiknya dengan menambah empat unit armada kapal baru melalui anak usahanya, PT Wasesa Line (WL). Langkah ekspansi ini didukung oleh investasi senilai Rp 22,75 miliar yang bersumber dari kas internal perusahaan.

Penambahan armada ini mencakup pembelian tiga unit tugboat dan satu unit Landing Craft Tank (LCT). Presiden Direktur MITI, Andreas Tjahjadi, menyatakan bahwa akuisisi ini merupakan bagian integral dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas operasional secara keseluruhan. Selain itu, penambahan armada ini diharapkan mampu menangkap peluang pertumbuhan yang signifikan di sektor jasa transportasi laut dan logistik di Indonesia.

“Penambahan tiga tugboat dan satu LCT di WL merupakan langkah strategis MITI untuk memperkuat kapasitas armada dan meningkatkan kemampuan operasional. Kami melihat kebutuhan jasa transportasi laut dan logistik masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik,” ujar Andreas dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Tiga unit tugboat yang baru bergabung adalah TB Vanvorine, TB Fearless, dan TB Noble, yang masing-masing dibekali daya mesin 659 HP. Sementara itu, LCT Inneke 02 memiliki daya mesin 620 HP. Tugboat tersebut akan difungsikan untuk mendukung kegiatan towing, pengangkutan, operasional kapal, serta berbagai aktivitas logistik laut lainnya. Adapun LCT akan dimanfaatkan untuk mengangkut beragam jenis muatan, mulai dari kargo, alat berat, hingga kebutuhan logistik esensial lainnya.

Dengan adanya tambahan empat kapal ini, total armada yang dimiliki MITI melalui PT Wasesa Line kini berjumlah sembilan unit. Rincian armada tersebut meliputi tiga tugboat, satu LCT, empat crew boat, dan satu Anchor Handling Tug Supply (AHTS).

Bidik Pendapatan Berulang

Penambahan armada kapal ini menjadi strategi kunci bagi MITI dalam meningkatkan fleksibilitas untuk memperoleh kontrak baru. Perusahaan tidak hanya mengandalkan peningkatan kapasitas, tetapi juga berfokus pada optimalisasi pemanfaatan kapal guna menghasilkan pendapatan yang lebih stabil dan berulang.

Andreas menjelaskan bahwa perseroan akan mengoptimalkan armada baru dengan memperhatikan berbagai faktor krusial, termasuk tingkat utilisasi kapal, efisiensi biaya operasional, aspek keselamatan pelayaran, serta dinamika kebutuhan pasar.

“Kami akan terus melakukan ekspansi secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan potensi tingkat utilisasi armada. Kami berharap tambahan armada ini dapat meningkatkan pendapatan berulang dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham,” tuturnya.

Utilisasi armada menjadi faktor penentu keberhasilan strategi ini. Tambahan kapal akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan apabila dapat segera dioperasikan melalui kontrak dengan pelanggan. Salah satu pelanggan utama WL adalah PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), yang mana kehadiran armada tambahan diharapkan dapat mendukung kebutuhan transportasi laut dalam rantai distribusi energi nasional.

Selain kegiatan towing, armada baru ini juga membuka peluang bagi WL untuk memperluas jangkauan layanan pengangkutan barang dan logistik laut. Dengan demikian, ekspansi ini tidak hanya bertujuan menambah jumlah kapal, tetapi juga memperluas spektrum jasa yang dapat ditawarkan kepada para pelanggan.

Menuju Total Logistics Solution

Akuisisi empat kapal baru ini merupakan bagian dari upaya MITI untuk mengembangkan bisnis pelayarannya secara organik, dengan visi menjadi penyedia solusi logistik total (total logistics solution).

Dengan basis armada yang kini lebih besar, MITI berpeluang mengintegrasikan berbagai layanan, mulai dari transportasi laut, towing, pengangkutan kargo, hingga berbagai jasa logistik pendukung lainnya. Model bisnis terintegrasi ini memungkinkan MITI untuk meningkatkan potensi *cross-selling* layanan kepada pelanggan sekaligus memperluas sumber pendapatan dari bisnis pelayaran dan logistik.

Dari sisi pendanaan, investasi sebesar Rp 22,75 miliar untuk keempat kapal tersebut sepenuhnya dibiayai dari kas internal perusahaan, yang berarti ekspansi armada ini tidak menambah beban utang perseroan secara langsung.

MITI menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan ekspansi secara *prudent*, dengan menyesuaikan besaran investasi terhadap kondisi pasar dan potensi utilisasi armada. Perusahaan juga akan senantiasa memperhatikan efisiensi biaya operasional serta aspek keselamatan dalam setiap pengoperasian kapal.

“Penambahan armada ini diharapkan dapat mendongkrak pendapatan dan memberi kontribusi positif terhadap kinerja MITI secara keseluruhan serta mendukung ketahanan energi nasional,” pungkas Andreas.

Dengan sembilan armada yang kini dikelola melalui WL, MITI memiliki landasan operasional yang lebih kuat untuk mengejar berbagai peluang di sektor transportasi laut dan logistik. Tantangan selanjutnya adalah memastikan tingkat utilisasi armada yang optimal agar investasi baru ini dapat segera diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.